28 C
Jakarta

Pemimpin Hebat Mau Mendengar, Bukan Merasa Paling Benar

Published:

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengingatkan bahwa kemampuan mendengarkan menjadi salah satu syarat penting bagi seorang pemimpin. Menurut dia, pemimpin yang menutup diri terhadap masukan atau merasa selalu paling benar akan kesulitan melihat persoalan secara utuh sebelum mengambil keputusan.

Pernyataan itu disampaikan Luhut saat membuka Galeri Jejak Langkah Luhut Binsar Pandjaitan di Jakarta, Senin (28/9/2026). Ia mengatakan, setiap orang memiliki keterbatasan dalam memahami suatu masalah, termasuk mereka yang berada di posisi kepemimpinan.

Pemimpin Tidak Bisa Melihat Semua Sudut

“Pemimpin tuh harus mau dengar. Kalau pemimpin tidak mau dengar, ya repot. Atau pemimpin merasa dia yang paling benar. Karena kita manusia pasti ada kekurangan, pasti ada angle-angle yang tidak kita lihat,” kata Luhut.

Ia menjelaskan, masukan dari orang-orang di sekitar diperlukan karena seorang pemimpin tidak mungkin menangkap seluruh sudut pandang secara sendirian. Perbedaan perspektif, menurut dia, dapat membantu mengungkap bagian-bagian persoalan yang luput dari perhatian ketika keputusan sedang disiapkan.

Sikap terbuka tersebut, kata Luhut, merupakan salah satu pelajaran yang ia peroleh sepanjang menjalani berbagai tugas. Pengalaman itu mencakup perannya sebagai prajurit TNI, diplomat, menteri, hingga saat ini memimpin DEN.

Andalkan Kolaborasi dengan Tim

Dalam menjalankan tugas di pemerintahan, Luhut mengaku banyak mengandalkan masukan dari timnya. Ia menyebut sebagian besar anggota tim tersebut merupakan anak muda.

Masukan dari tim menjadi bagian dari proses yang ia jalani ketika menghadapi beragam persoalan dalam tugas pemerintahan. Karena itu, Luhut menilai hasil yang dicapai selama ini tidak dapat dipandang sebagai hasil kerja seorang diri.

Menurut dia, berbagai capaian tersebut lahir dari kerja sama dengan banyak pihak yang berada di sekelilingnya. Pengalaman itu sekaligus memperkuat pandangannya bahwa kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan kewenangan untuk menentukan arah, tetapi juga kesediaan menerima pandangan dari orang lain.

Ia menempatkan sikap mau mendengar sebagai prinsip yang relevan bagi siapa pun yang memegang tanggung jawab kepemimpinan. Tanpa keterbukaan terhadap masukan, seorang pemimpin berisiko mengambil keputusan berdasarkan sudut pandang yang terbatas.

Source link

Related articles

Recent articles