Fenomena El Niño akan terus berulang dalam siklus dua hingga tujuh tahun. Bagi Indonesia, setiap kemunculannya bukan hanya persoalan kekeringan, tetapi juga ujian terhadap ketahanan pangan, pertanian, serta kondisi hutan dan lahan gambut.
Maura Tri Hardini, Policy Specialist di Pijar Foundation, menilai rangkaian El Niño, termasuk peristiwa besar pada 2015 dan 2023 serta kondisi terkini, semestinya dibaca sebagai pelajaran untuk memperkuat ketahanan jangka panjang. Menurut dia, setiap siklus memperlihatkan kerentanan sistem pangan dan pertanian terhadap perubahan iklim.
Krisis berulang, respons masih jangka pendek
Dampak El Niño dapat terlihat dari penurunan produksi sejumlah komoditas utama hingga meningkatnya risiko kebakaran di hutan dan lahan gambut. Ketika kekeringan datang, perhatian biasanya segera diarahkan pada penanganan kondisi darurat.
Langkah yang ditempuh antara lain memastikan pasokan air tetap tersedia, menjaga saluran irigasi agar terus berfungsi, menyalurkan bantuan kepada petani, serta meredam dampak kekeringan di tengah masyarakat. Maura menilai seluruh upaya tersebut penting untuk mengurangi tekanan selama krisis berlangsung.
Namun, keberhasilan melewati satu periode kekeringan tidak serta-merta membuat Indonesia lebih siap menghadapi siklus berikutnya. Penanganan yang hanya berfokus pada kebutuhan mendesak berisiko membuat persoalan mendasar kembali terabaikan ketika ancaman El Niño berlalu.
Kesehatan tanah sebagai fondasi ketahanan pangan
Pelajaran utama dari berulangnya El Niño, menurut Maura, adalah bahwa ketahanan pangan tidak dapat dibangun secara mendadak saat musim kemarau tiba. Kesiapan tersebut perlu disiapkan jauh sebelum krisis muncul, terutama melalui penguatan sektor pertanian.
Salah satu fondasi yang kerap luput dari perhatian adalah kesehatan tanah. Selama puluhan tahun, Indonesia mendorong peningkatan produktivitas pertanian untuk memenuhi kebutuhan populasi yang terus bertambah. Strategi itu menghasilkan kemajuan yang signifikan, tetapi penerapan intensifikasi dalam jangka panjang juga membawa konsekuensi terhadap kondisi tanah.
Degradasi kesehatan tanah ditandai oleh menurunnya kandungan bahan organik dan berkurangnya keanekaragaman hayati. Ketika kedua unsur tersebut merosot, fungsi dasar tanah ikut melemah. Tanah pun menjadi lebih rapuh ketika curah hujan berkurang dan kekeringan melanda.
Dalam konteks tersebut, ketahanan pangan tidak cukup diukur dari kemampuan menjaga pasokan selama krisis. Daya tahan pertanian juga bergantung pada kondisi lingkungan yang menopangnya. Berulangnya El Niño memperlihatkan bahwa respons darurat tetap diperlukan, tetapi ketahanan yang lebih kuat harus dibangun sebelum kekeringan datang—termasuk dengan memberi perhatian lebih besar pada kesehatan tanah.
