Kunjungan Wakil Perdana Menteri Malaysia Daro’ Seri Ahmad Zahid Hamidi ke Menara 165, Jakarta, Senin (21/9/2026), tidak hanya menjadi pertemuan antara dua sahabat lama. Pertemuan dengan Pendiri ESQ Corp dan Universitas Ary Ginanjar, Ary Ginanjar Agustian, itu juga dimanfaatkan sebagai ruang untuk memperkuat hubungan Indonesia dan Malaysia.
Ahmad Zahid dan Ary diketahui telah menjalin persahabatan selama sekitar dua dekade. Hubungan tersebut bermula ketika Ahmad Zahid menjabat sebagai Menteri Agama Malaysia. Persahabatan itu tetap berlangsung ketika ia dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis di pemerintahan Malaysia, termasuk Menteri Pertahanan dan Menteri Dalam Negeri, hingga kemudian menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri.
Persahabatan di luar jabatan
Ary mengatakan hubungan keduanya tidak dibangun semata-mata berdasarkan posisi atau kepentingan formal. Menurut dia, kedekatan tersebut tetap terpelihara meskipun Ahmad Zahid berpindah jabatan dan menghadapi berbagai tanggung jawab pemerintahan.
“Persahabatan kita tidak melihat jabatan, tetapi persahabatan hati. Dalam keadaan suka maupun duka, hubungan itu tetap terjaga,” kata Ary dalam keterangannya kepada media di Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Bagi Ary, pertemuan di Menara 165 menjadi bagian dari hubungan personal yang telah berlangsung panjang. Kedekatan itu juga pernah berperan dalam membuka komunikasi ketika hubungan Indonesia dan Malaysia berada dalam situasi sensitif.
Pengalaman saat sengketa Ambalat
Ary menyinggung salah satu periode penting dalam hubungan kedua negara, yakni ketika Indonesia dan Malaysia menghadapi ketegangan terkait sengketa Ambalat. Pada masa itu, Ahmad Zahid masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan Malaysia. Di tengah situasi tersebut, Ahmad Zahid tetap berkunjung ke Menara 165.
Menurut Ary, kunjungan itu tidak berhenti pada pertemuan personal. Menara 165 juga menjadi ruang untuk mempertemukan sejumlah tokoh pertahanan dari Indonesia dan Malaysia dalam suasana dialog. Pertemuan tersebut berlangsung ketika hubungan kedua negara menghadapi persoalan yang sensitif dan membutuhkan komunikasi.
Ary menjelaskan, pendekatan personal dan spiritual ikut membantu menciptakan ruang dialog serta membangun kembali kepercayaan. Ia menilai hubungan antarmanusia dapat menjadi pintu masuk bagi komunikasi ketika hubungan formal antarnegara menghadapi tantangan.
Dalam konteks itulah, kunjungan Ahmad Zahid pada Senin lalu dipandang Ary sebagai bagian dari hubungan yang melampaui batas jabatan. Pertemuan tersebut mempertemukan kembali dua sahabat yang telah menjaga komunikasi selama sekitar 20 tahun, sekaligus menjadi kesempatan untuk merawat hubungan Indonesia-Malaysia melalui jalur personal dan spiritual.
