Harryanto Aryodiguno, seorang Asisten Profesor Hubungan Internasional di Universitas President, mempertanyakan asumsi mendasar dalam teori Hubungan Internasional kontemporer. Keyakinan akan satu-satunya tatanan internasional di dunia, yang biasanya diartikan sebagai sistem negara-bangsa berdaulat, mulai dipertanyakan. Sejarah Eropa memperkuat asumsi ini, namun masalahnya timbul ketika cara berpikir sejarah Eropa dianggap sebagai satu-satunya cara untuk memahami dunia saat ini.
Pemikiran tentang Multiverse dalam Hubungan Internasional muncul sebagai kritik terhadap asumsi ini. Multiverse tidak menyangkal pentingnya aturan, tetapi menegaskan bahwa logika berbagai tatanan yang berasal dari peradaban dan sejarah yang berbeda tidak hilang, melainkan hidup bersama, saling berinteraksi, dan tumpang tindih. Tatanan Westphalia bukanlah satu-satunya tatanan yang ada, melainkan salah satu dari banyak semesta politik dunia yang saling berdampingan.
Global IR menjadi vital dalam konteks ini. Pendekatan Global IR tidak bertujuan menggantikan teori Hubungan Internasional Barat, tetapi mengingatkan bahwa teori selalu terbentuk dari konteks geografis, sejarah, dan peradaban tertentu. Mempertimbangkan pengalaman historis dari berbagai kawasan dan peradaban sebagai sumber pengetahuan teoretis merupakan inti dari Global IR. Dunia yang plural tidak dapat dipahami dengan satu teori tunggal, melainkan memerlukan kemampuan untuk mengakui perbedaan dan koeksistensi.
Melalui pendekatan ini, dunia multiverse memungkinkan untuk dipahami dengan lebih luas dan mendalam. Global IR membuka wawasan baru terhadap keragaman tatanan politik di dunia, menyadari bahwa berbagai logika dapat bersamaan dan saling menguatkan. Sehingga, penting bagi kita untuk mempertimbangkan berbagai perspektif dalam memahami kompleksitas Hubungan Internasional.
