28.6 C
Jakarta

Pelaku Wisata Selam: Presiden Harus Stop Tambang Nikel di Raja Ampat

Published:

JAKARTA — Suara penolakan terhadap tambang nikel di Raja Ampat, Papua Barat Daya, kembali menguat. Kali ini, Perkumpulan Usaha Wisata Selam Indonesia atau Indonesia Divetourism Company Association (IDCA) menyampaikan surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto bertepatan dengan peringatan World Ocean Day. Dalam surat itu, IDCA menilai aktivitas tambang nikel di kawasan tersebut berpotensi menggerus masa depan pariwisata bahari Indonesia yang selama ini bertumpu pada keindahan laut dan ekosistemnya.

Raja Ampat dinilai tak boleh diperlakukan seperti wilayah tambang

IDCA meminta pemerintah mengambil langkah tegas dengan mencabut izin tambang secara permanen, memperluas zona perlindungan laut, serta memperkuat ekonomi hijau berbasis masyarakat. Organisasi itu juga menekankan pentingnya keterlibatan komunitas lokal dalam pengelolaan kawasan agar manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati oleh segelintir pihak, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan yang menjadi sumber hidup warga.

Dalam pandangan IDCA, Raja Ampat bukan sekadar destinasi wisata unggulan, melainkan warisan global yang harus dipertahankan. Mereka menegaskan kawasan itu layak dijaga sebagai aset dunia, bukan hanya kebanggaan nasional yang dipuji saat indah, tetapi diabaikan ketika terancam.

Ancaman bagi selam, terumbu karang, dan citra Indonesia

IDCA mengingatkan bahwa lebih dari 60 persen daya tarik pariwisata Indonesia bertumpu pada kekayaan alam. Di tengah kondisi itu, Raja Ampat disebut menyumbang lebih dari Rp 150 miliar per tahun dari sektor pariwisata. Karena itu, aktivitas tambang nikel di Pulau Kawe, yang berdekatan dengan destinasi populer Wayag, dinilai bisa menimbulkan dampak jauh lebih besar daripada keuntungan jangka pendek yang ditawarkan industri ekstraktif.

Organisasi pelaku wisata selam itu menyebut kawasan tersebut sebagai rumah bagi manta ray, terumbu karang, dan habitat laut lain yang menjadi alasan utama wisatawan datang ke Raja Ampat. Jika ekosistem ini terganggu, menurut IDCA, yang terancam bukan hanya lingkungan, tetapi juga reputasi Indonesia sebagai salah satu tujuan selam terbaik di dunia.

Seruan agar pembangunan hijau jadi arah kebijakan

Melalui surat terbuka itu, IDCA mengajak semua pihak terkait untuk menempatkan perlindungan laut sebagai prioritas. Mereka menilai pembangunan hijau harus menjadi bagian integral dari masa depan Indonesia, bukan sekadar pelengkap dalam pidato kebijakan. Bagi pelaku wisata selam, keputusan atas Raja Ampat akan menjadi ujian apakah negara benar-benar memihak keberlanjutan atau justru membiarkan kekayaan lautnya terkikis atas nama investasi.

Source link

Related articles

Recent articles