27 C
Jakarta

Kampanye YKI di HTTS: Satu Batang Rokok Bisa Sakiti Satu Rumah

Published:

Kampanye YKI di HTTS: Satu Batang Rokok Bisa Sakiti Satu Rumah

Jakarta, 31 Mei 2025 — Di tengah keramaian Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) bersama Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) memilih Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2025 sebagai panggung untuk mengingatkan publik pada satu pesan yang sederhana, tetapi keras: asap rokok tidak pernah berhenti di tangan perokok saja. Kampanye bertajuk “Yang Ngerokok Kamu, Yang Sakit Serumah!” itu menyorot risiko yang kerap diabaikan, yakni bahaya rokok dan vape bagi orang-orang terdekat, termasuk anak-anak dan keluarga di rumah.

Asap Rokok Tak Hanya Mengancam Perokok

Ketua Umum YKI, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, menegaskan bahwa kampanye ini dirancang untuk menggugah kesadaran masyarakat tentang dampak tembakau yang jauh lebih luas daripada sekadar kebiasaan pribadi. Menurut dia, rokok dan vape bukan hanya merugikan perokok aktif, tetapi juga orang di sekeliling yang ikut menghirup asapnya.

Ia menyoroti posisi Indonesia yang masih berada di jajaran negara dengan jumlah perokok tinggi di dunia. Mengacu pada World Population Review edisi April 2025, Indonesia disebut menempati peringkat kelima dengan 38,7 persen perokok aktif. Angka itu, kata Aru, semestinya menjadi alarm bagi pemerintah, keluarga, dan masyarakat luas.

Ratusan Orang Turun ke GBK dan SPARK

Sosialisasi yang digelar di kawasan GBK dan SPARK itu diikuti lebih dari 300 pegiat olahraga dan warga. Mereka menyebarkan informasi mengenai bahaya asap rokok terhadap kesehatan keluarga sekaligus mengajak masyarakat berhenti merokok. Pendekatan ini dibuat langsung di ruang publik agar pesan tentang hidup tanpa asap rokok lebih mudah diterima dan tidak berhenti sebagai slogan seremonial.

Ketua Panitia HTTS 2025 YKI, Murniati Widodo AS, mengingatkan bahwa perokok pasif, terutama anak-anak, menghadapi risiko besar terkena kanker paru dan penyakit kronis lainnya. Ia menekankan, bahaya rokok tidak berhenti pada tubuh perokok, melainkan menjalar ke rumah, lingkungan, dan orang-orang yang paling dekat.

POI: Momen Refleksi untuk Melawan Tembakau

Dalam kesempatan yang sama, Ketua POI Pusat, Dr. dr. Cosphiadi Irawan, menyebut Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2025 sebagai momen penting untuk memperkuat perlawanan terhadap dampak buruk tembakau. Ia menegaskan, rokok merupakan penyebab utama berbagai jenis kanker. “Setiap kali kita merokok, kita meninggalkan kesempatan untuk hidup sehat, namun setiap langkah berhenti merokok adalah investasi dalam masa depan,” ujarnya.

Data Kementerian Kesehatan RI per Mei 2024 menunjukkan, jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai sekitar 70 juta orang. Dari angka itu, 7,4 persen di antaranya adalah anak-anak usia 10–18 tahun. Di sisi lain, satu batang rokok disebut mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia berbahaya, yang menambah alasan mengapa isu ini tak bisa dipandang ringan.

YKI dan POI juga menjalankan sejumlah rangkaian edukasi, mulai dari penayangan video kampanye, pemasangan banner informatif, distribusi suvenir edukatif, hingga sosialisasi langsung di titik-titik strategis. Seluruh kegiatan itu diarahkan untuk membangun kesadaran bahwa hidup tanpa rokok bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan langkah perlindungan kesehatan yang paling mendasar.

Sumber: Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2025: YKI & POI Serukan Stop Merokok Lewat Kampanye “Yang Ngerokok Kamu, Yang Sakit Serumah!”
Sumber: Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2025: Yayasan Kanker Indonesia Dan Perhimpunan Onkologi Indonesia Gelar Kampanye “Yang Ngerokok Kamu, Yang Sakit Serumah!” Untuk Masa Depan Bebas Asap Rokok

Related articles

Recent articles