Wesley Sneijder mengenang fase penting dalam kariernya ketika meninggalkan Real Madrid untuk bergabung dengan Inter Milan. Dalam wawancara bersama jurnalis Davide Bernardi di Milano untuk konten eksklusif Betsson.sport, mantan gelandang serang Belanda itu menyebut perpindahan tersebut sebagai bagian dari perjalanan yang memang harus terjadi.
Dari Madrid menuju kesuksesan di Inter
Sneijder hanya menghabiskan dua tahun bersama Real Madrid sebelum melanjutkan kariernya di Italia. Bersama Inter, ia kemudian meraih berbagai gelar dan menganggap periode tersebut sebagai salah satu bagian paling berharga dalam perjalanan profesionalnya.
“Dua tahun di Real Madrid, lalu saya pergi ke Inter dan memenangkan segalanya di sini. Segala sesuatu terjadi karena memang harus terjadi,” ujar Sneijder.
Dalam percakapan itu, Sneijder juga membahas Jose Mourinho, pelatih asal Portugal yang pernah menanganinya di Inter. Ia memuji mentalitas Mourinho yang berani dan tidak ragu membangun keyakinan kuat di dalam tim. Sneijder menyinggung kebanggaan Mourinho ketika menegaskan bahwa timnya tidak “memarkir bus di depan gawang”.
Pernyataan tersebut dipandang Sneijder sebagai gambaran keberanian kelompok Inter yang saat itu menjadi bagian dari sejarah klub. Ia menilai pendekatan Mourinho sesuai dengan karakter tim yang mereka bangun bersama.
Kesan terhadap Ancelotti dan keputusan pensiun
Sneijder juga menyampaikan pandangannya mengenai Carlo Ancelotti. Ia merasa bisa cocok dengan pelatih asal Italia tersebut, terutama karena cara Ancelotti menjalin hubungan dengan para pemain dan menyampaikan pesan di hadapan publik.
“Saya rasa saya akan cocok dengannya. Semua orang berbicara baik tentang Ancelotti kepada saya dan saya melihat dari luar bagaimana ia mengelola hubungan dengan para pemain, misalnya dari cara ia berbicara di konferensi pers,” kata Sneijder.
Ia menyukai sosok pelatih yang tenang dan tetap menunjukkan kepercayaan kepada pemain. “Hal-hal seperti inilah yang saya sukai, seorang pelatih yang berbicara seperti itu, sangat tenang, selalu dengan kepercayaan terhadap para pemainnya,” lanjutnya.
Dalam wawancara tersebut, Sneijder turut menjelaskan alasan di balik keputusannya mengakhiri karier sebagai pemain. Ia berhenti ketika bermain di Qatar, setelah periode yang diwarnai masalah cedera. Menurutnya, kondisi fisik menjadi pertimbangan utama.
“Tidak terlalu sulit, karena saya berhenti saat bermain di Qatar dan pada periode itu saya selalu cedera, saya merasa kaki saya secara fisik sudah tidak ada lagi. Saya selalu berkata pada diri sendiri bahwa ketika secara fisik saya sudah tidak mampu lagi, saya akan berhenti,” tuturnya.
Pengalaman bertahan hidup tanpa makanan
Sneijder juga membagikan pengalaman lain yang ia sebut sangat berkesan. Ia menghabiskan 12 hingga 13 hari dalam kondisi tanpa makan. Karena mampu memasak, Sneijder mengatakan dirinya banyak menyiapkan makanan untuk para pemain lain.
“Pengalaman yang sangat indah, 12-13 hari di sana tanpa makan. Saya bisa memasak, jadi hampir semua saya yang lakukan untuk para pemain lain. Mereka senang, itu pengalaman bertahan hidup yang spektakuler,” ujar Sneijder.
Selain kisah kepindahan dari Real Madrid ke Inter, pembicaraan tersebut mencakup Jose Mourinho, Carlo Ancelotti, asal tendangan bebas Sneijder, serta Guti yang disebut sebagai rekan terbaiknya.
