11.8 C
New York

Ketahanan Ideologi Jadi Kunci Hadapi Ancaman Perang Dunia

Published:

Semakin sering kita melihat perbincangan terkait ancaman perang dunia di media sosial dan dalam kehidupan sehari-hari, isu tersebut kerap kali menimbulkan rasa khawatir di kalangan masyarakat, terutama generasi muda. Menyadari keresahan tersebut, Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) Chapter Jabodetabek mengadakan IR Youth Talks#1 pada 21 April 2026 di Auditorium Suwantji Sisworahardjo, FISIP Universitas Indonesia.

Acara ini mengambil tema “Indonesia dalam Dinamika Geopolitik Global”, memberikan ruang diskusi terbuka seputar situasi internasional. Pembukaan dilakukan oleh Anggy Pasaribu, jurnalis dan pendiri “Story of Anggy” yang juga alumnus Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan. Ia mendorong peserta berpikir kritis: apakah kekhawatiran yang berkembang mengenai potensi perang dunia benar-benar punya dasar logis, atau sekadar reaksi atas ketidakpastian global yang meningkat.

Alih-alih menakut-nakuti, Anggy mengajak anak muda untuk memperluas pemahaman dan menelaah isu geopolitik secara komprehensif tanpa terburu-buru mengambil kesimpulan. Kekhawatiran perlu diimbangi pemikiran jernih agar tak mudah terseret spekulasi.

Menanggapi hal itu, Brigjen TNI Aloysius Nugroho Santoso dari Lemhannas RI mengingatkan pentingnya membangun kesiapan bangsa ketimbang terpaku pada prediksi perang dunia. Menurut Aloysius, menghadapi dinamika global tidak hanya soal memperkirakan apa yang akan datang, tapi lebih kepada memastikan Indonesia mampu bertahan dalam berbagai situasi, apapun bentuk krisis yang mungkin timbul di kemudian hari.

Lemhannas secara kontinu melakukan pemetaan potensi ancaman melalui metode net assessment, pembuatan skenario, dan penilaian kerentanan nasional. Hasil kajian mereka memperlihatkan bahwa Indonesia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketergantungan terhadap energi dan pangan luar negeri hingga posisi strategis Indonesia di pusat pertarungan pengaruh negara-negara besar kawasan Indo-Pasifik.

Gejolak global dapat membawa efek langsung ke dalam negeri, baik berupa lonjakan harga bahan bakar, ketidakpastian ekonomi, maupun ancaman keamanan nasional. Dalam kondisi ini, Aloysius menyoroti kembali pentingnya Pancasila sebagai pondasi utama yang menjaga kesinambungan identitas serta ketahanan bangsa di tengah tekanan eksternal.

Bukan hanya kekuatan ekonomi atau militer yang menentukan daya tahan bangsa, kata Aloysius, namun kekuatan ideologi Pancasila juga menjadi penopang persatuan dan ketahanan nasional. Jika landasan ideologis kokoh, bangsa Indonesia diyakini mampu mengatasi segala tekanan global.

Broto Wardoyo, Ketua Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia, menyajikan perspektif lain dengan mengajak peserta melihat krisis global sebagai bagian dari transformasi sistem internasional. Menurutnya, lebih tepat memandang dinamika ini sebagai fragmentasi berbagai krisis ketimbang satu skenario pasti menuju perang dunia.

Ia menekankan dunia sedang menghadapi beragam krisis yang saling bertaut, mulai dari persaingan geopolitik, ketergantungan energi global, hingga tekanan ekonomi. Ia juga menyoroti peran sejumlah pemimpin dunia seperti Donald Trump yang mempercepat munculnya ketidakpastian melalui kebijakan-kebijakan kontroversial di level global.

Sebagai langkah strategis, Broto mengenalkan konsep resilience-based hedging yang mengombinasikan keuletan membangun relasi luar negeri dengan penguatan ketahanan dalam negeri secara simultan dan berjenjang. Strategi ini dimaksudkan agar Indonesia mampu meredam efek negatif dari ketidakstabilan global serta menyesuaikan diri dengan cepat di tengah persaingan negara-negara besar.

Forum IR Youth Talks menjadi ajang penting untuk mempertemukan para pemudi dan pemuda, akademisi, hingga perumus kebijakan dalam dialog setara mengenai isu-isu hubungan internasional. Kolaborasi lintas kampus ini melibatkan enam perguruan tinggi anggota AIHII Chapter Jabodetabek seperti Universitas Indonesia, Universitas Pertamina, Universitas Bina Nusantara, Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama, Universitas Jayabaya, dan Universitas Budi Luhur.

Jeanne Francoise, dosen Hubungan Internasional President University yang mewakili AIHII, menyoroti pentingnya forum ini sebagai jembatan yang mempertemukan kajian ilmu hubungan internasional secara lebih dekat dengan anak muda di berbagai kampus. Diskusi terbuka ini juga membuktikan bahwa pemahaman tentang isu global tidak hanya penting bagi akademisi, tapi juga vital untuk generasi muda yang akan merasakan langsung dampaknya di masa mendatang.

Saat diskusi hampir usai, Anggy kembali menekankan perlunya menjaga kualitas dalam ruang dialog publik. Ia mengingatkan bahwa kritik harus tetap ada, namun sebaiknya disampaikan secara santun dan di tempat yang tepat agar memberikan sumbangsih positif.

Partisipasi generasi muda dalam pembahasan isu-isu publik tidak harus selalu muncul dalam bentuk perdebatan panas; bisa juga dimulai dari peningkatan wawasan dan penyampaian ide secara konstruktif. Pada akhirnya, ketidakpastian global memang tak bisa dipungkiri, namun respons cerdas serta kesiapan mental menjadi modal utama agar bangsa ini mampu bertahan dan tumbuh di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Soroti Risiko Global Bagi Anak Muda
Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Bahas Isu Perang Dunia, Anak Muda Diminta Siap Hadapi Risiko

Related articles

Recent articles