7.2 C
New York

Akademisi UI Bahas Penguatan Reformasi Sektor Keamanan

Published:

Studi tentang keamanan dan profesionalisme militer di Indonesia terus menjadi isu penting di lingkungan akademik dan praktisi. Salah satu contohnya adalah kuliah tamu bertajuk “Pola Karir dan Profesionalisme Militer” yang diadakan oleh Program Magister Hubungan Internasional Universitas Indonesia, pada 4 Maret 2026, dalam rangkaian mata kuliah Reformasi Sektor Keamanan. Forum dialog yang diinisiasi ini berfokus pada dinamika pola karir militer serta tantangan membangun profesionalisme TNI dalam konteks demokrasi di tanah air.

Forum tersebut menghadirkan tiga pembicara: Dr. rer. pol. Aditya Batara Gunawan dari Universitas Bakrie, Beni Sukadis, M.Si. dari Lesperssi, dan Yudha Kurniawan, M.A. yang juga menjadi peneliti di Universitas Bakrie. Mereka membedah secara mendalam permasalahan pengembangan karir militer, mulai dari mekanisme promosi perwira, faktor relasi personal, hingga tantangan menjaga keseimbangan antara otoritas sipil dan militer dalam reformasi sektor pertahanan.

Bagian penting dari diskusi ini berkisar pada pertanyaan fundamental: sejauh mana politik, khususnya politik populis, masih menjadi faktor kunci dalam penentuan karir militer Indonesia? Menurut pemaparan Dr. Aditya, transformasi politik dalam era populisme berpotensi memperkuat unsur personalisasi dalam pengelolaan promosi dan penempatan jabatan strategis di TNI. Kondisi seperti ini berakibat pada munculnya ketegangan antara nilai profesionalisme berbasis kinerja dan pertimbangan kedekatan personal, yang terus menjadi sumber dilema di tubuh institusi militer.

Selain itu, Aditya menyoroti risiko berkurangnya ruang kontrol dan pengawasan lembaga sipil apabila dominasi faktor personal lebih menonjol. Dalam kacamata demokrasi, penguatan mekanisme check and balance menjadi mutlak agar relasi sipil–militer tetap sehat, baik dalam proses promosi maupun dalam pengambilan keputusan strategis lainnya.

Persoalan batas intervensi sipil dalam urusan militer mencuat sebagai tema krusial. Praktik di berbagai negara menunjukkan adanya keragaman cara dalam mengelola relasi ini. Di beberapa tempat, pengangkatan pejabat militer tertinggi harus melalui mekanisme persetujuan lembaga legislatif, seperti yang berlaku di Amerika Serikat. Namun, sistem berbeda terlihat di Inggris, di mana otoritas eksekutif lebih dominan dan tidak memerlukan persetujuan parlemen untuk menunjuk pimpinan militer. Pola-pola ini turut menjadi cerminan bahwa demokrasi tidak menyajikan satu skema seragam dalam tata kelola angkatan bersenjata.

Di Indonesia sendiri, Beni Sukadis menilai bahwa reformasi besar terjadi sejak era Reformasi. Salah satu pencapaian kunci adalah pemisahan TNI dan Polri, serta pengaturan peran militer melalui UU Pertahanan dan UU TNI yang menegaskan fungsi TNI sebagai alat pertahanan negara, bukan aktor politik. Namun, Beni juga tidak menutup mata terhadap kenyataan bahwa promosi jabatan strategis masih sering dipengaruhi motif non-profesional, misalnya kedekatan dengan penguasa politik.

Fenomena pengisian posisi Panglima TNI, misalnya, tidak selalu mengikuti rotasi antarmatra secara konsisten, seperti terlihat pada pergantian dari Jenderal Moeldoko ke Jenderal Gatot Nurmantyo—keduanya berasal dari matra darat. Hal ini diakui membuka celah masuknya faktor politik dalam pengambilan keputusan di tingkat tertinggi.

Yudha Kurniawan menambah perspektif dengan mengungkap problem penumpukan perwira tinggi dalam tubuh TNI akibat ketidakseimbangan antara jumlah personel dan keterbatasan posisi jabatan. Hasil penelitiannya menunjukkan, secara ideal perwira membutuhkan waktu puluhan tahun untuk meraih pangkat Brigadir Jenderal. Namun, konstelasi struktur organisasi, keterbatasan lembaga pendidikan, serta perbedaan kualitas SDM menjadi hambatan utama dalam menjamin jalur karir yang adil dan meritokratis.

Kondisi struktural ini, ditambah keterbatasan anggaran dan sarana pelatihan, menghambat proses regenerasi dan menimbulkan stagnasi karir perwira-perwira potensial. Jika tidak dikelola secara strategis, situasi semacam ini dapat mereduksi motivasi untuk berinovasi dan menciptakan iklim profesionalisme sejati di lingkungan TNI.

Melalui diskusi dalam kuliah tamu ini, mahasiswa diharapkan dapat membangun pemahaman kritis tentang pentingnya desain institusi yang adaptif, berorientasi profesionalisme, serta berbasis pengawasan sipil tanpa harus menegasikan peran dan kewenangan militer sebagai penjaga kedaulatan negara. Konteks ini semakin relevan di tengah kecenderungan kemunduran demokrasi (democratic backsliding) yang menjadi perhatian kalangan akademisi dan pengamat.

Perdebatan soal peran TNI di ranah sipil, meskipun terus diperbincangkan, tidak bisa dilepaskan dari ketidakberdayaan aktor sipil dalam mempertegas batas kewenangan institusi. Hubungan sipil–militer pada akhirnya merupakan proses interaktif yang tidak hanya dipengaruhi oleh penetrasi militer ke area sipil, melainkan juga tergantung pada kapasitas sipil dalam menjaga otoritasnya.

Penting juga untuk menyadari bahwa penguatan profesionalisme militer tidak selalu berarti memperbesar kontrol sipil secara mutlak. Dalam kenyataan tertentu, dominasi sipil atas internal militer yang berlebihan bisa menghasilkan gesekan dan mengganggu efektivitas institusi. Oleh sebab itu, pendekatan organisasional yang didasarkan pada prinsip meritokrasi dan sistem promosi transparan tetap menjadi rujukan utama dalam penguatan TNI di masa depan.

Diskursus mengenai pola karir dan pengelolaan promosi di lingkungan militer memang harus dikaji sebagai prakarsa internal institusi, bukan sekadar isu politik praktis jangka pendek. Banyak negara telah membuktikan bahwa membangun institusi militer yang profesional memerlukan keseimbangan antara kontrol sipil yang sehat, tata kelola organisasi yang modern, dan komitmen memisahkan militer dari arena politik praktis.

Dengan demikian, kuliah tamu ini menjadi wadah memperkaya perspektif serta refleksi kritis mengenai arah reformasi sektor keamanan nasional di tengah dinamika politik serta tantangan institusi pertahanan negara modern.

Sumber: Diskusi UI Membahas Profesionalisme Militer Indonesia Dan Pola Karier Perwira TNI
Sumber: Diskusi UI Ungkap Dinamika Karier Militer Indonesia, Dari Regenerasi Hingga Reformasi TNI

Related articles

Recent articles