Perayaan tahun baru selalu menjadi momen yang dinantikan oleh banyak orang, karena menandai akhir dari suatu perjalanan dan awal dari petualangan baru. Detik-detik pergantian tahun kerap disambut dengan harapan baru, refleksi atas perjalanan yang telah dilalui, dan berbagai tradisi yang hidup di berbagai belahan dunia. Perayaan ini memiliki jejak sejarah panjang yang dimulai sekitar 4.000 tahun lalu oleh bangsa Babilonia. Mereka pertama kali memperkenalkan perayaan tahun baru sebagai bentuk penghormatan terhadap kedatangan tahun yang baru.
Perayaan ini didasarkan pada penanggalan yang mengacu pada vernal equinox, yaitu saat garis ekuator dan ekliptika saling berpotongan, menjadikan perayaan tahun baru jatuh pada pertengahan bulan Maret. Bangsa Babilonia merayakan tahun baru dengan festival keagamaan Akitu yang berlangsung selama 11 hari dengan berbagai kegiatan yang berbeda setiap harinya.
Sebelum 1 Januari dijadikan penanda awal tahun, bangsa Romawi Kuno menggunakan kalender Romawi yang dimulai dari bulan Martius. Namun, Julius Caesar merancang sistem kalender baru yang dinamakan “Kalender Julian” dengan bantuan ahli astronomi Sosigenes. Sosigenes mengusulkan agar tahun baru dimulai pada 1 Januari, sebagai penghormatan kepada Dewa Janus.
Kalender Masehi baru resmi diberlakukan pada tahun 1582 oleh Paus Gregorius XIII, yang mengadopsinya sebagai penyempurnaan Kalender Julian dengan menetapkan Kelahiran Yesus Kristus sebagai titik awal penanggalan. Dari sinilah, tradisi Sylvester Night muncul sebagai perayaan pada malam 31 Desember hingga tanggal 1 Januari, yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah perayaan Tahun Baru Masehi hingga saat ini.
