28.3 C
Jakarta

Kasus DBD di Jaksel pada pertengahan April turun signifikan

Published:

Jakarta, ANTARA – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jakarta Selatan menunjukkan penurunan tajam pada pertengahan April 2024. Meski begitu, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan mengingatkan bahwa ancaman belum sepenuhnya reda, sebab wilayah ini masih menjadi salah satu daerah dengan kasus tertinggi di Jakarta.

Turun dari 221 menjadi 65 kasus

Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, Yudi Dimyati, mengatakan hingga 16 April 2024 tercatat 65 kasus DBD. Jumlah itu jauh lebih rendah dibandingkan pertengahan Maret 2024 yang mencapai 221 kasus.

"Bulan April terjadi penurunan kasus signifikan, per 16 April hanya ada 65 kasus," kata Yudi di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, penurunan tersebut tidak lepas dari upaya berbagai pihak dalam menggiatkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di tingkat lingkungan. Langkah itu dinilai mulai memberi dampak terhadap laju penularan DBD di Jakarta Selatan.

Masih tertinggi pada Maret

Yudi menjelaskan, sepanjang Maret 2024, kasus DBD di Jakarta Selatan justru menjadi yang paling tinggi dibandingkan Januari, Februari, dan April. Pada bulan itu, total kasus mencapai 507.

Meski angka pada April menurun, Jakarta Selatan tetap tercatat sebagai wilayah dengan kasus DBD nomor empat tertinggi dibandingkan daerah lain di Jakarta.

Yudi juga menyinggung adanya kasus kematian akibat DBD di Kecamatan Kebayoran Lama pada Maret lalu. Korban sempat mendatangi puskesmas, namun menolak pemeriksaan laboratorium dan memilih pulang. Tiga hari kemudian, ia kembali dalam kondisi koma dan meninggal sekitar tiga jam setelah tiba di fasilitas kesehatan.

"Datang ke puskesmas dengan kondisi sudah koma, walaupun sebelumnya sudah masuk ke puskesmas. Pas diperiksa ternyata trombosit sudah turun hanya tinggal 40 ribu dari normalnya 150 ribu," ujarnya.

PSN diminta diperketat dua kali seminggu

Sebelumnya, Wali Kota Jakarta Selatan Munjirin meminta jajaran kecamatan dan kelurahan memperkuat pelaksanaan PSN menjadi dua kali dalam sepekan. Permintaan itu disampaikan menyusul meningkatnya kasus DBD dan adanya korban meninggal.

"Saya minta para camat dan lurah yang punya kader jumantik (juru pemantau jentik) agar kadernya lebih teliti lagi memeriksa jentik pada bulan-bulan ini," kata Munjirin.

Ia menegaskan, pemeriksaan yang sebelumnya dilakukan satu kali seminggu perlu ditambah menjadi dua kali. Menurut dia, pengawasan jentik harus diperluas, termasuk melalui jumantik mandiri yang menyisir rumah-rumah warga sekaligus memberi edukasi agar masyarakat tidak lengah.

"Kami minta karena ini tinggi kasus demam berdarah, maka waktu pemeriksaan pada hari Jumat bisa ditambahkan hari lain, jadi seminggu dua kali," tuturnya.

Pewarta: Khaerul Izan
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2024
Source link

Related articles

Recent articles