28.8 C
Jakarta

Dokter ingatkan terpapar TBC tak berarti langsung sakit

Published:

Jakarta — Paparan bakteri penyebab tuberkulosis atau TBC tidak otomatis membuat seseorang jatuh sakit dalam waktu dekat. Dokter dari Koalisi Organisasi Profesi Indonesia untuk Penanggulangan Tuberkulosis (KOPI TB) DKI Jakarta, dr. Dimas Dwi Saputro, Sp.A, mengingatkan bahwa penyakit ini kerap berkembang perlahan dan tanpa gejala yang langsung terasa.

Gejala bisa muncul lama setelah tertular

“Jika TBC menular sekarang, gejalanya bisa muncul satu pekan kemudian, satu bulan kemudian, satu tahun kemudian, atau bahkan 10 tahun kemudian karena TBC berkembang secara diam-diam, lambat,” kata Dimas dalam seminar daring yang disiarkan laman Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan, penularan bakteri Mycobacterium tuberculosis terjadi melalui percikan pernapasan dari orang yang sudah terinfeksi. Karena itu, seseorang yang merasa baik-baik saja belum tentu bebas dari risiko, terlebih bila berada dalam kontak erat dengan pasien TBC.

Lingkungan ikut menentukan risiko

Dimas menyebut, pada kondisi normal, sistem kekebalan tubuh dapat menahan masuknya bakteri tersebut melalui saluran napas. Namun, pertahanan itu bisa melemah akibat sejumlah faktor, seperti polusi udara, asap rokok, dan kondisi rumah tangga yang kurang mendukung kesehatan pernapasan.

“Terkadang ketika polusi masuk, saluran napas ada bentengnya yang sibuk menangkap polusi, sehingga kuman TBC bisa masuk dengan mudah. Itulah sebabnya mengapa polusi udara dan asap rokok mempermudah masuknya kuman TBC,” ujarnya.

Ia juga menyoroti tingginya risiko penularan di lingkungan rumah. Data menunjukkan, orang yang tinggal bersama pasien TBC selama satu tahun memiliki risiko sekitar 50 persen tertular TBC dan akan sakit TBC dalam dua tahun.

Kasus masih tinggi, penemuan di Jakarta melampaui target

TBC masih menjadi persoalan kesehatan besar di Indonesia. Pada 2023, jumlah kasus tercatat mencapai 1.060.000, dan Indonesia menempati peringkat kedua dengan beban TBC tertinggi di dunia setelah India.

Di Jakarta, Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI menemukan 60.420 pasien TBC baru dari total pasien yang diperiksa. Jumlah itu melampaui target penemuan kasus yang diperkirakan sebanyak 59.217 kasus.

Pelaksana Tugas (Plt) Wakil Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dwi Oktavia dalam seminar daring yang sama menekankan pentingnya kerja bersama untuk menekan penularan, mulai dari pencegahan, deteksi dini, pengobatan yang tepat, hingga dukungan agar pasien disiplin menjalani terapi.

“Mudah-mudahan dengan pengobatan yang tepat, pasien dapat sembuh dalam waktu enam bulan,” kata Dwi.

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Sri Muryono
Copyright © ANTARA 2024
Source link

Related articles

Recent articles