Oleh Prabowo Subianto
Di ruang pasukan, hormat kepada orang yang lebih dulu mengabdi bukan sekadar etika, melainkan ukuran kepemimpinan. Itulah pelajaran yang ditegaskan Prabowo Subianto saat mengisahkan sebuah peristiwa yang menurutnya menjadi contoh tentang bagaimana seorang komandan seharusnya bersikap, dan bagaimana seorang perwira justru bisa gagal memahami batas.
Ketika jabatan tak diimbangi penghormatan
Prabowo bercerita, peristiwa itu terjadi ketika ia baru beberapa hari menjabat sebagai Wakil Komandan Batalyon. Suatu pagi, ia dikejutkan oleh seorang Letnan Dua yang berlari masuk ke kantornya. Tak lama kemudian, seorang Sersan Kepala menyusul sambil membawa sangkur dan mengejar sang letnan hingga ke dalam ruangan.
Di hadapannya, Prabowo melihat seorang prajurit tua bertubuh besar, berkumis tebal, dan masih menahan emosi. Ia lalu bertanya mengapa sangkur dicabut dan mengapa seorang perwira justru dikejar oleh bawahannya sendiri.
Sersan Kepala itu menjawab bahwa ia tersinggung karena dimaki-maki oleh letnan muda yang baru lulus Akademi Militer. Menurut dia, kata-kata yang dipakai sang perwira tidak pantas, terlebih kepada prajurit yang lebih tua dan lebih lama mengabdi.
Perwira muda diingatkan soal batas
Prabowo memilih tidak memperpanjang soal ucapan yang dilontarkan sang letnan. Ia langsung mengambil alih situasi, meminta sang sersan mengembalikan sangkur ke sarungnya, lalu keluar dari ruangan. Kepada sang letnan, Prabowo memberi teguran keras: pangkat yang lebih tinggi bukan alasan untuk merendahkan prajurit yang telah lama bertugas dan berkali-kali mempertaruhkan nyawa.
“Janganlah kamu anggap mereka anak muda yang bisa kamu caci maki seenaknya,” demikian inti pesan yang disampaikan Prabowo dalam kisah itu. Ia menekankan bahwa di pasukan tempur, banyak prajurit bawahan yang usianya justru lebih tua, lebih berpengalaman, dan telah menanggung banyak penderitaan.
Menurut Prabowo, pemimpin tidak boleh bertindak sembarangan. Di lingkungan militer, kata dia, sikap dan ucapan bisa berdampak langsung pada disiplin, rasa hormat, dan keselamatan orang-orang di bawah komando.
Keras, tetapi harus adil
Prabowo juga mengaku kerap dikenal sebagai pemimpin yang keras. Namun, ia menegaskan kekerasan itu bukan untuk menunjukkan kuasa, melainkan untuk menjaga disiplin dan menghindari bahaya. Ia marah, katanya, bila ada pelanggaran atau tindakan yang bisa mengancam nyawa orang lain.
Dalam pandangannya, seorang pemimpin wajib menempatkan keselamatan anak buah dan kepentingan kesatuan di atas kepentingan pribadi. Tugas harus selesai, negara harus diutamakan, dan prajurit harus selamat, aman, serta sejahtera. Barulah setelah itu seorang pemimpin memikirkan dirinya sendiri.
Source link
