27.5 C
Jakarta

Contoh-contoh Pemimpin yang Tidak Bermanfaat, Contoh Kesembilan: Letnan Membuat Anak Kepala Suku Menjadi ‘Gundik’

Published:

Jakarta — Dalam salah satu catatan yang dimuat dalam buku Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto, Prabowo menyoroti contoh kepemimpinan yang justru berujung fatal di lapangan. Kisah ini bukan ditampilkan sebagai pujian, melainkan sebagai peringatan keras tentang bagaimana arogansi seorang perwira bisa menyeret pasukannya ke dalam bencana.

Pelajaran dari kepemimpinan yang keliru

Prabowo membuka kisahnya dengan penegasan bahwa tidak semua pemimpin layak dijadikan contoh. Menurut dia, ada perwira dan komandan yang justru memperlihatkan sikap yang bertentangan dengan nilai kepemimpinan. Ia menulis bahwa cerita semacam ini disampaikan bukan untuk menjatuhkan orang, melainkan agar kesalahan serupa tidak terulang.

Di dalam catatan itu, ia mengisahkan sebuah kejadian di daerah operasi. Sebuah pasukan yang dipimpin lulusan Akademi Militer mendapat tugas pengamanan di sebuah bukit di luar desa. Mereka membangun pos pertahanan dan bertahan di sana selama beberapa minggu.

Kesalahan yang memicu serangan balasan

Di tengah penugasan itu, sang letnan disebut memperhatikan anak kepala desa yang juga kepala suku di wilayah tersebut. Anak perempuan itu kemudian dibawa ke dalam penguasaan sang perwira dan dijadikan “gundik” selama beberapa minggu. Prabowo tidak menyebut nama pasukan maupun lokasi rinci kejadian itu.

Masalah menjadi serius ketika, beberapa hari sebelum pasukan itu dijadwalkan kembali dari daerah operasi, warga kampung melakukan penyergapan secara diam-diam terhadap pos tersebut. Seluruh pasukan disebut tewas dalam serangan itu. Peristiwa tersebut, menurut Prabowo, sempat menggemparkan lingkungan TNI pada masa itu.

Arogansi yang berujung fatal

Dari peristiwa tersebut, Prabowo menarik pelajaran bahwa seorang pemimpin lapangan wajib memahami posisi dirinya sebagai bagian dari tentara rakyat. Tindakan mengambil anak kepala suku dan memperlakukannya sebagai gundik dinilai sebagai pelanggaran terhadap kaidah yang diajarkan di TNI, sekaligus tindakan yang memicu dendam mendalam dari masyarakat setempat.

Ia juga menilai sikap seperti itu mencerminkan watak “adidang, adigung, adiguna” atau merasa paling berkuasa dan paling benar. Dalam pandangannya, arogansi semacam itu bukan hanya merusak hubungan dengan rakyat, tetapi juga membahayakan nyawa anak buah sendiri.

Prabowo menekankan bahwa sang perwira bahkan membuka celah keamanan karena perempuan itu dapat keluar-masuk camp dan mengetahui titik-titik pertahanan, jalur masuk terbaik, hingga waktu paling lengah. Dari sana, menurut dia, terlihat bagaimana keputusan pribadi seorang komandan bisa berubah menjadi kelemahan taktis yang sangat mahal.

“Saya menceritakan ini bukan untuk menjelekkan orang,” tulis Prabowo dalam catatan itu. “Saya menceritakan ini untuk memberitahu kepada saudara-saudara sekalian agar menghindari dan tidak melakukan hal-hal seperti ini.” Source link

Related articles

Recent articles