27.5 C
Jakarta

Prabowo dan Gibran Menggunakan Barang Impor untuk Makan Siang

Published:

JAKARTA — Perdebatan soal program makan siang gratis kembali mengemuka setelah Mahfud MD menyinggung bahwa susu dan sejumlah bahan pangan untuk program itu masih bergantung pada impor. Pernyataan itu disampaikan Mahfud dalam jumpa pers di Djakarta Theatre, Jakarta, Sabtu (30/12).

“Makan siang gratis susu dan sebagainya itu kan impor, kira-kira barang-barang impor,” kata Mahfud MD.

India Pernah Mengalami Hal Serupa

Menanggapi pernyataan tersebut, sebuah penjelasan yang beredar mencontohkan India sebagai negara yang dulu juga bergantung pada impor susu. Namun, ketergantungan itu kemudian berubah setelah kebijakan makan siang gratis di sekolah diperkuat lewat keputusan Mahkamah Konstitusi India pada 2001.

Dalam keputusan No. 196/2001, Mahkamah Konstitusi India menyatakan bahwa setiap anak di sekolah dasar yang menerima bantuan pemerintah berhak mendapat makan siang siap saji dengan kandungan minimal 300 kalori dan 8-12 gram protein setiap hari sekolah selama sedikitnya 200 hari.

Dari Kebijakan Sosial ke Penggerak Produksi Lokal

Kebijakan itu disebut memberi dorongan besar bagi pelaku usaha lokal dan UMKM di India untuk masuk ke produksi pangan dan susu. Permintaan yang tercipta dari program sekolah dinilai membuka pasar baru yang membuat investasi di sektor peternakan dan pengolahan susu menjadi lebih menarik.

Hasilnya, India kini tercatat sebagai produsen susu terbesar di dunia pada 2023. Negara itu bahkan tidak lagi hanya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga mulai mengekspor susu.

Peternakan Sapi Perah Jadi Penopang Desa

Sektor peternakan sapi perah kemudian menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi pedesaan di India. Pemerintah setempat juga disebut memfasilitasi penguatan infrastruktur peternakan melalui sejumlah inisiatif, antara lain Dana Pengolahan dan Pengembangan Infrastruktur Peternakan, distribusi Kartu Kredit Kisan (KCC), serta peluncuran Misi Rashtriya Gokul untuk meningkatkan produktivitas dan produksi susu.

Dalam catatan itu, kebijakan publik dipandang bukan semata soal kondisi hari ini, melainkan juga tentang bagaimana negara menyiapkan ekosistem produksi di masa depan. Source link

Related articles

Recent articles