Paseban Foundation menyoroti pentingnya perlindungan ekosistem Pegunungan Megamendung di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, setelah memastikan bahwa masih ada lima spesies primata terakhir Pulau Jawa yang bertahan hidup di kawasan ini. Keberadaan mereka berhasil diidentifikasi melalui serangkaian riset terintegrasi, baik melalui observasi langsung maupun dengan pemanfaatan kamera jebak untuk memantau aktivitas satwa.
Hasil pengamatan tersebut diumumkan dalam acara Annual Dinner Paseban Foundation tahun 2026 di Jakarta, bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional. Momen itu sekaligus menandai dua tahun berdirinya yayasan ini sebagai pelopor konservasi di Jawa.
Wahdi Azmi, Direktur Eksekutif yayasan, mengatakan bahwa tekanan lahan akibat padatnya penduduk Pulau Jawa telah mempersempit ruang hidup alam liar. Namun demikian, keberadaan kelima jenis primata dalam satu lanskap membuktikan bahwa Megamendung masih menjadi kantong utama keanekaragaman hayati.
Kawasan ini tidak hanya penting bagi primata. Berdasarkan survei Paseban Foundation, Megamendung juga menjadi habitat satwa langka seperti Elang Jawa dan Macan Tutul Jawa, selain ragam tumbuhan dan fauna pegunungan. Dengan letaknya yang dekat dari Jakarta, area ini tergolong sebagai penjaga kawasan penyangga Cagar Biosfer Cibodas.
Sayangnya, lokasi Megamendung yang berada di pinggiran kawasan biosfer membuatnya sangat rentan terhadap ekspansi pembangunan manusia. Oleh karena itu, kebutuhan menjaga fungsi ekologis melalui pengaturan zonasi—dari inti suaka hingga area interaksi sosial-ekonomi masyarakat—semakin krusial.
Seluruh bentang alam di Megamendung membentuk jaringan ekologi yang erat, melibatkan hutan, sungai, habitat satwa liar, sawah penduduk, dan permukiman yang saling mempengaruhi satu sama lain. Penasihat yayasan, Wiratno, mengingatkan bahwa batas administratif wilayah bukanlah pembatas alami bagi satwa maupun air. Satwa senantiasa bergerak menyesuaikan dengan ketersediaan makanan dan habitat, melintasi batasan-batasan manusia.
Atas dasar ini, pendekatan kolaboratif sangat dibutuhkan dalam pengelolaan kawasan. Pemerintah, komunitas lokal, kalangan usaha, peneliti, dan pegiat lingkungan dituntut membangun sinergi tata kelola ekosistem secara bersama-sama.
Salah satu langkah Paseban Foundation ialah menggalang penanaman pohon lokal untuk memperluas tutupan hijau dan memperbaiki habitat. Hingga Agustus 2026, telah tertanam 21.831 bibit pohon ke dalam bentang Megamendung.
Selain itu, Paseban Foundation mulai memperluas upaya ke perlindungan ex-situ, yakni perlindungan satwa di luar habitat aslinya lewat penangkaran dan pembiakan terkontrol. Yayasan kini memegang izin lembaga penangkaran untuk burung dan mamalia, yang semuanya berlangsung secara non-komersial.
Usaha penangkaran ini mulai menunjukkan hasil; tiga anak rusa telah lahir dan akan disiapkan untuk reintroduksi ke habitat Megamendung, langkah yang diharapkan mampu mengembalikan rantai makanan dan struktur ekosistem yang mulai hilang.
Namun, pelepasliaran satwa ke alam bebas bukan cuma soal memindahkan individu saja. Prosesnya wajib melibatkan tahap rehabilitasi komprehensif, pengecekan kesiapan satwa, survei habitat tujuan, dan pengawasan pasca-dilepas untuk menjamin kelangsungan ekosistem dan populasi alami.
Andy Utama, salah satu pendiri Paseban Foundation, menegaskan bahwa tugas mengembalikan kesehatan ekosistem Megamendung adalah pekerjaan lintas generasi. Kesadaran tersebut melandasi lahirnya agenda Megamendung Century Initiative, target besar untuk memulihkan fungsi ekologis kawasan mendekati kondisi aslinya satu abad yang lalu.
Inisiatif tersebut tidak ingin menghidupkan masa lalu secara utuh, tetapi lebih pada memperkuat daya dukung lingkungan, kesinambungan habitat, keberlanjutan vegetasi, serta memastikan air dan aktivitas masyarakat berjalan harmonis dengan ekosistem.
Andy percaya, upaya konservasi membutuhkan ketekunan dan komitmen panjang, bahkan lebih lama daripada umur satu generasi. “Kita wajib mencetak tongkat estafet bagi generasi mendatang, karena konservasi alam adalah maraton yang tidak boleh berhenti pada satu titik,” tegasnya.
Sumber: 5 Primata Jawa Bertahan Di Megamendung, Paseban Foundation Dorong Pemulihan Ekosistem
Sumber: Kerap Terdesak Pemukiman, Lima Primata Jawa Ditemukan Hidup Bersama Di Alam Megamendung Bogor
