Judul: Transformasi Budaya Religius di Era Digital: Hijrah Digital dan Peran Influencer Agama
Media sosial telah menjadi ruang baru bagi masyarakat dalam memahami dan menjalankan agama di era digital. Hal ini terlihat dari fenomena hijrah digital dan maraknya influencer agama di platform-platform media sosial. Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Imam Subchi, menyoroti adanya transformasi budaya religius yang kuat di tengah masyarakat digital saat ini.
Hijrah Digital: Ruang Baru Belajar Agama
Menurut Imam Subchi, media sosial kini menjadi salah satu sarana belajar agama yang digemari, terutama oleh generasi muda. Aktivitas keagamaan seperti mengaji, mencari identitas spiritual, dan menetapkan rujukan keagamaan dapat dilakukan melalui platform seperti YouTube, TikTok, Instagram, podcast, dan komunitas digital lainnya. Fenomena ini mencerminkan perubahan signifikan dalam cara masyarakat mengakses informasi keagamaan.
Sebuah laporan We Are Social 2025 menunjukkan bahwa pengguna media sosial di Indonesia telah mencapai lebih dari 143 juta akun, melebihi jumlah penduduk aktif Indonesia. Hal ini menandakan bahwa media sosial telah menjadi bagian tak terhindarkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Influencer Agama: Otoritas Agama dalam Sorotan
Imam Subchi juga menyoroti peran penting influencer agama dalam media sosial. Banyak orang, terutama generasi muda, mulai menganggap influencer media sosial sebagai rujukan utama dalam hal agama. Hal ini menjadikan otoritas agama mengalami perubahan paradigma, di mana kepopuleran dan jumlah pengikut seringkali dianggap sebagai penentu keahlian dalam agama.
Namun, Imam Subchi menekankan bahwa otoritas agama seharusnya didasarkan pada proses belajar yang mendalam, ilmu yang kokoh, dan tanggung jawab moral. Ketergantungan pada potongan informasi instan dan singkat dapat membuat pemahaman agama menjadi dangkal, padahal sebenarnya agama memiliki kompleksitas yang perlu dipahami secara mendalam.
