Rayakan Scudetto: Statistik Inter Milan di Piazza Duomo
Inter Milan menutup malam yang panjang di Milan dengan perayaan yang terasa lebih besar dari sekadar kemenangan liga. Gelar Scudetto ke-21 bukan hanya dipastikan di lapangan, tetapi juga dirayakan bersama ribuan tifosi di Piazza Duomo, pusat keramaian kota yang berubah menjadi lautan hitam-biru. Selebrasi ini menjadi penanda musim luar biasa Nerazzurri, yang mengunci gelar setelah mengemas 26 kemenangan dari 35 pertandingan Serie A.
Duomo Jadi Panggung Perayaan
Usai mengalahkan Parma 2-0 di San Siro, rombongan Inter tidak langsung menutup euforia. Pemain, staf, dan suporter bergerak ke pusat kota Milan untuk melanjutkan pesta hingga larut malam. Di Piazza Duomo, suasana kemenangan terasa lepas, seolah seluruh kota ikut merayakan musim yang berakhir manis bagi tim asuhan Simone Inzaghi itu.
Federico Dimarco menjadi salah satu wajah pertama yang muncul dalam perayaan tersebut. Bersama legenda klub Javier Zanetti, ia memimpin pesta di hadapan para tifosi yang memenuhi alun-alun utama Milan. Momen itu mempertegas kedekatan antara tim dan pendukung, terutama setelah perjalanan musim yang tidak selalu mulus.
Dimarco: Seperti Awal Baru
Dimarco tak menutupi emosinya ketika berbicara kepada InterTV. Ia menyebut pemandangan Milan yang didominasi warna hitam dan biru sebagai sesuatu yang sangat istimewa baginya. “Rasanya luar biasa. Melihat Milan berwarna hitam dan biru sangat istimewa bagiku. Ini seperti awal baru setelah kesedihan musim lalu,” ujarnya.
Bek sayap itu juga menekankan kekuatan kolektif Inter sepanjang musim. Menurut dia, kunci keberhasilan tim adalah kemampuan untuk tetap bersatu saat menghadapi masa sulit. “Kami adalah tim yang solid, tetap bersatu dalam momen sulit. Kami terjatuh, namun selalu bangkit. Sekarang, kami menikmati gelar ini dengan penuh kebahagiaan,” kata Dimarco.
Statistik yang Menguatkan Dominasi Inter
Di balik pesta dan sorak-sorai, angka-angka musim ini turut menjelaskan mengapa Inter layak merayakan Scudetto dengan begitu percaya diri. Mereka menutup Serie A dengan 26 kemenangan dari 35 laga, sebuah catatan yang menunjukkan konsistensi sejak awal hingga akhir musim. Gelar bahkan sudah diamankan dengan tiga pertandingan tersisa, menegaskan dominasi mereka atas para pesaing.
Dalam laga penentu melawan Parma, gol dicetak oleh Marcus Thuram dan Henrikh Mkhitaryan. Thuram melanjutkan tren impresifnya dengan mencetak gol dalam lima pertandingan beruntun, sementara Mkhitaryan memastikan kemenangan bersih lewat penyelesaian yang memanfaatkan umpan Lautaro Martinez. Kombinasi itu menjadi potret Inter musim ini: tajam, efektif, dan sulit dihentikan saat momentum sudah berpihak.
Scudetto ke-21 ini akhirnya bukan sekadar angka dalam lembar sejarah klub. Ia lahir dari kerja kolektif, stabilitas permainan, dan kemampuan Inter menjaga intensitas hingga pekan-pekan akhir. Dari San Siro ke Piazza Duomo, perayaan itu menjadi penutup yang sepadan untuk musim yang mereka kuasai hampir tanpa jeda.
Source link
