9.2 C
New York

Wahdi Azmi Soroti Pentingnya Keterlibatan Masyarakat

Published:

Dalam perbincangan mengenai pelestarian alam di Indonesia, kebanyakan orang kerap kali memusatkan perhatian pada perlindungan hutan atau pelestarian satwa liar. Fokus ini memunculkan narasi tentang deforestasi, keterancaman populasi fauna, hingga pertumbuhan konflik antara manusia dan hewan. Namun, Wahdi Azmi, seorang dokter hewan dan pelaku konservasi yang telah lama terlibat menangani masalah manusia dan gajah di Sumatera, menyoroti aspek yang sering luput: manusia.

Wahdi mengungkapkan pandangannya dalam dialog di kanal Leaders Talk Tourism seputar Surat Edaran Ditjen KSDAE No. 6 Tahun 2025. Ia menegaskan, menjaga satwa saja tidaklah cukup, sebab tanpa adanya manfaat nyata untuk masyarakat sekitar, misi konservasi cenderung lemah. Menurut Wahdi, seluruh pengalaman panjang di lapangan menunjukkan bahwa akar masalah tidak hanya terletak pada perubahan perilaku satwa, melainkan juga perubahan ekosistem akibat tekanan sosial dan ekonomi yang tidak diakomodasi dengan baik.

Ketika lahan hutan digantikan oleh perkebunan atau pemukiman, habitat satwa menjadi semakin menyempit. Belum lagi, warga sekitar juga menghadapi tantangan ekonomi yang semakin mendesak. Konsekuensinya, persinggungan manusia dan satwa kerap tidak dapat dihindari. Tetapi, seperti ditekankan Wahdi, tantangan utamanya adalah bagaimana respons kita terhadap konflik ini.

Pendekatan konservasi yang lazim selama ini lebih bersifat protektif: membatasi wilayah, menekan aktivitas manusia, dan sangat mengandalkan regulasi untuk menjaga kelestarian. Walau kelihatannya rasional, kebijakan semacam itu seringkali justru menciptakan kesenjangan antara masyarakat lokal dengan kawasan konservasi. Di banyak desa, regulasi tersebut berdampak pada pembatasan akses lahan, terbatasnya kegiatan ekonomi, serta risiko konflik satwa yang meningkat.

Sebagai dampaknya, pelestarian alam dipandang bukan lagi sebagai kepentingan bersama, tetapi sebagai hambatan dalam keseharian warga. Padahal, sebagaimana diingatkan Wahdi, manusia juga bagian integral dari ekosistem. Oleh karena itu, strategi konservasi seharusnya tidak hanya bersifat proteksi, tapi juga integrasi yang menghubungkan kebutuhan lingkungan dan manusia.

Wahdi mencontohkan, integrasi ini menuntut keterlibatan tiga aspek kunci: konservasi, ekonomi masyarakat lokal, dan edukasi. Tanpa keterhubungan antarelemen tersebut, pelestarian alam menjadi rapuh dan mudah tergantung pada upaya eksternal yang berjangka pendek.

Pendekatan integratif terlihat di kawasan Mega Mendung, Bogor. Daerah perbukitan ini kini menghadapi ancaman alih fungsi lahan yang tidak hanya merugikan hutan, tetapi juga sistem air dan kesejahteraan warga. Arista Montana, bersama Yayasan Paseban di bawah koordinasi Andy Utama, mengambil jalur berbeda. Alih-alih memisahkan kegiatan manusia dari perlindungan alam, mereka memilih mengakomodasi keduanya.

Di Mega Mendung, pelestarian lingkungan dijalankan lewat integrasi aktivitas ekonomi masyarakat, bukan sebagai program terpisah. Salah satunya ialah penerapan sistem pertanian organik komunitas. Petani lokal terlibat penuh mulai dari penanaman hingga pemasaran. Selain mendapat pendampingan teknis, mereka juga mendapat wawasan tentang pentingnya pertanian ramah lingkungan demi menjaga tanah dan air agar tetap sehat.

Di sini, konservasi bukan lagi sekadar urusan moral atau kewajiban ekologis, melainkan kebutuhan ekonomi. Dengan semakin sehatnya ekosistem, hasil pertanian juga meningkat, sehingga aspek pelestarian dan kesejahteraan berjalan beriringan.

Keberhasilan model ini banyak dipengaruhi oleh dukungan edukasi dari Yayasan Paseban. Melalui pelatihan, komunitas lokal tidak hanya dikenalkan dengan konsep konservasi, namun dibekali keahlian nyata seperti teknik pertanian lestari, pengelolaan sumber daya alam, hingga pendidikan lingkungan bagi generasi muda. Edukasi tersebut bukan sekadar penyuluhan, namun benar-benar mengasah keterampilan dan wawasan masyarakat, supaya mereka mampu mengelola dan mengambil manfaat langsung dari lingkungan.

Dengan pendekatan seperti ini, pelestarian lingkungan tidak lagi terasa sebagai beban, tetapi berubah menjadi peluang. Masyarakat pun menjadi subjek utama, bukan lagi sekadar objek program konservasi. Mereka punya kepentingan yang jelas agar lingkungan tetap lestari, karena keberlanjutan kehidupan kini bergantung pada keberhasilan menjaga alam.

Keterkaitan antara pengalaman Wahdi Azmi di Sumatera dan praktik di Mega Mendung makin memperjelas bahwa isu utamanya bukan pada satwa atau lahannya semata, tapi justru pada relasi manusia dan alam. Di Sumatera, kegagalan integrasi ekonomi memicu konflik manusia-gajah. Sedangkan di Mega Mendung, pemaduan kepentingan konservasi dengan ekonomi warga justru menekan potensi konflik dan meningkatkan harmoni lingkungan.

Kedua contoh kasus menunjukkan bahwa pelestarian alam tidak hanya diukur dari seberapa banyak hutan atau hewan yang dilindungi, melainkan dari seberapa kuat hubungan yang dibentuk antara ekosistem dan manusia yang tinggal di dalamnya.

Banyak kegagalan konservasi di Indonesia berawal dari kurangnya kapasitas masyarakat di tingkat lokal. Komunitas sering tidak pernah diikutsertakan dalam perencanaan, minim alternatif ekonomi, dan tidak memiliki keterampilan yang relevan. Sebaliknya, bila mereka diberdayakan dan mendapat manfaat nyata, konservasi tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan.

Hal ini mempertegas perlunya model pelestarian yang tidak bersifat top-down, tetapi mengintegrasikan kebutuhan lingkungan dan sosial ekonomi. Di tengah laju pembangunan yang makin deras, model semacam ini semakin krusial agar pelestarian lingkungan tetap relevan dan diterima masyarakat.

Indonesia memang membutuhkan kawasan konservasi, tetapi lebih dari itu, negeri ini butuh pola pikir baru yang mampu menggabungkan pelestarian alam dengan penghidupan manusia. Ketika konservasi mampu masuk dalam sistem sosial, ekonomi, dan pengetahuan masyarakat, ia berubah menjadi kekuatan utama bagi pembangunan yang tahan lama.

Tanpa integrasi yang menyeluruh, pelestarian akan selalu terancam oleh tekanan ekonomi. Namun jika ekosistem terpelihara bersama, konservasi mampu menjawab kebutuhan hari ini tanpa mengorbankan masa depan. Pada akhirnya, pelestarian bukan hanya urusan menjaga alam, namun tentang memberikan alasan nyata agar manusia mau ikut melestarikannya.

Sumber: Wahdi Azmi Sebut Konservasi Harus Memberi Manfaat Bagi Masyarakat
Sumber: Dari Gajah Ke Mega Mendung, Ketika Konservasi Harus Menghidupi

Related articles

Recent articles