Perdana Wahyu Santosa, seorang Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, Direktur Riset GREAT Institute, dan CEO SAN Scientific, terlibat dalam berita terkait keputusan Moody’s yang menurunkan outlook kredit Indonesia dari stable ke negative. Hal ini menimbulkan perhatian karena bukan hanya berdasarkan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga terkait dengan prediktabilitas kebijakan dan tata kelola. Keberadaan badan investasi baru, Danantara, juga menjadi sorotan dalam hal sumber pendanaan, tata kelola, dan prioritas investasi. Meskipun demikian, data menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang bagus hingga tahun 2025, yang didorong oleh konsumsi rumah tangga dan investasi. Bank Indonesia juga menegaskan stabilitas sistem keuangan dan inflasi masih terkendali. Namun, ketidakpastian kebijakan dan penurunan kepastian arah kebijakan membawa premi risiko, yang berdampak pada berbagai sektor seperti pemerintah, BUMN, bank, dan obligasi jangka panjang. Tekanan pasar terus terasa, terlihat dari pelemahan indeks saham dan nilai tukar rupiah. Itulah yang menjadi fokus utama dalam menghadapi situasi ini.
Dana Antara, Penilaian Moody’s, dan Dampak pada Harga Pasar
Published:
