25.1 C
Jakarta

Gugatan Driver Ojol dan Pedagang terhadap UU Ciptaker: Kuota Internet Hangus

Published:

Gugatan Driver Ojol dan Pedagang terhadap UU Ciptaker: Kuota Internet Hangus

Seorang driver ojek online dan seorang pedagang kuliner daring memilih membawa persoalan yang mereka hadapi sehari-hari ke Mahkamah Konstitusi. Didi Supandi, driver ojol, bersama Wahyu Triana Sari, pedagang kuliner daring, menggugat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja ke MK. Bagi keduanya, perkara yang tampak sederhana—kuota internet yang dianggap hangus—menyimpan dampak yang lebih luas bagi pekerja informal dan pelaku usaha kecil yang bergantung pada akses digital untuk mencari nafkah.

Kuota Internet yang Tak Terpakai Jadi Pusat Persoalan

Dalam keseharian, internet bukan sekadar kebutuhan tambahan bagi Didi dan Wahyu. Bagi mereka, koneksi data menjadi alat kerja utama untuk menerima pesanan, berkomunikasi dengan pelanggan, dan menjalankan aktivitas usaha. Karena itu, kebijakan yang dinilai membuat kuota internet hangus dipandang bukan hanya soal teknis layanan, melainkan persoalan keadilan bagi pengguna yang menggantungkan hidup pada layanan digital.

Keduanya menilai ketentuan dalam UU Ciptaker berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi pengusaha kecil dan pekerja informal. Dari sudut pandang mereka, beban yang muncul bukan hanya kerugian finansial, tetapi juga ketidakpastian perlindungan hukum atas hak-hak konsumen layanan internet yang mereka gunakan setiap hari.

Langkah ke MK Demi Perlindungan Hukum

Melalui gugatan ini, Didi Supandi dan Wahyu Triana Sari berharap Mahkamah Konstitusi memberi ruang penilaian yang lebih adil terhadap aturan yang mereka persoalkan. Mereka ingin ada kepastian hukum yang bisa melindungi pengguna internet, terutama kelompok yang paling rentan terdampak karena bergantung pada kuota untuk bekerja.

Pilihan membawa perkara ini ke MK menunjukkan bahwa persoalan layanan digital kini tak lagi berada di pinggir perdebatan hukum. Bagi pekerja seperti driver ojol dan pelaku usaha kuliner daring, aturan yang menyangkut kuota internet bisa langsung bersentuhan dengan pendapatan harian. Dalam konteks itu, gugatan ini menjadi upaya untuk menempatkan pengalaman pengguna kecil sebagai bagian dari pembacaan hukum yang lebih luas.

Source link

Related articles

Recent articles