6.9 C
New York

Indonesia Melangkah Menuju Posisi Diplomasi Iklim Global Unggul

Published:

Menteri Lingkungan Hidup dan Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Hanif Faisol Nurofiq menyatakan Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) di Belem, Brasil menjadi penanda penting bagi diplomasi iklim Indonesia di tingkat internasional. Konferensi iklim global itu menunjukkan posisi Indonesia yang semakin kuat dalam diplomasi iklim, meskipun masih ada stagnasi dalam negosiasi antarnegara di forum internasional. Meski begitu, Indonesia terus bergerak progresif dalam menghadapi tantangan tersebut.

Hanif menjelaskan bahwa Indonesia menggunakan dua jalur, yakni negosiasi dan soft diplomacy, dalam menghadapi stagnasi agenda multilateral. Selama penyelenggaraan COP30, Indonesia menjalin 14 pertemuan bilateral dan berkoalisi dengan 10 organisasi internasional untuk memperkuat kerja sama iklim, termasuk aliansi dengan Brasil dan Republik Demokratik Kongo, kedua negara pemilik hutan tropis terbesar dunia. Pemerintah juga aktif dalam inisiatif Tropical Forest Forever Facility, dengan dukungan dari Presiden Prabowo Subianto sebesar USD1 miliar atau sekitar Rp16,7 triliun.

Indonesia juga menekankan posisinya dalam implementasi Pasal 6.2 Paris Agreement, menjadi satu-satunya negara yang telah mengoperasionalkan ketentuan tersebut melalui kerja sama dengan Norwegia. Tindakan ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam menjaga lingkungan dan berperan aktif dalam upaya global melawan perubahan iklim.

Source link

Related articles

Recent articles