25.8 C
Jakarta

Krisis Gaza dan Diplomasi: Peran Indonesia-Prancis

Published:

Jakarta — Di tengah perang dan krisis kemanusiaan yang belum juga reda di Gaza, kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Indonesia membawa lapisan makna yang melampaui agenda kenegaraan biasa. Bagi Eko Ernada, Dosen Hubungan Internasional Universitas Jember, Gaza bukan sekadar wilayah konflik, melainkan simbol sejarah yang terus bergerak dan memperlihatkan kegagalan dunia internasional menghadirkan keadilan yang nyata.

Gaza sebagai cermin kegagalan dunia

Menurut Eko, penderitaan di Gaza menunjukkan bahwa komunitas internasional belum mampu keluar dari pola lama: mengecam kekerasan, tetapi gagal menghentikannya. Dalam kacamata itu, Gaza menjadi penanda bahwa perdamaian abadi masih jauh dari jangkauan, meski berbagai forum dan pernyataan politik terus digelar. Situasi ini, kata dia, menguji sejauh mana nilai kemanusiaan benar-benar menjadi dasar kebijakan luar negeri negara-negara besar.

Diplomasi Prancis dan beban sejarah di Timur Tengah

Prancis memiliki jejak panjang sebagai kekuatan kolonial di Timur Tengah, dan warisan itu ikut membentuk cara Paris memandang konflik Palestina-Israel. Kebijakan luar negeri Prancis terhadap Gaza kerap dipahami sebagai upaya menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan bahasa idealisme yang kerap mereka tampilkan di panggung internasional. Namun, keseimbangan itu tidak selalu berujung pada tindakan yang tegas.

Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Macron di Jakarta pun sarat simbol. Di satu sisi, pertemuan tersebut membuka ruang dialog strategis. Di sisi lain, ia memunculkan harapan agar Indonesia dan Prancis dapat mendorong konferensi perdamaian internasional yang lebih konkret, bukan sekadar menghasilkan pernyataan normatif.

Solusi dua negara dan pertanyaan soal konsistensi

Prancis selama ini menyatakan dukungan terhadap solusi dua negara sebagai jalan keluar bagi konflik Palestina-Israel. Tetapi, dukungan itu dinilai kerap berhenti pada retorika. Langkah-langkah yang lebih keras, seperti sanksi atau tekanan diplomatik terhadap Israel, belum tampak menjadi pilihan yang diambil secara konsisten.

Di titik inilah, pandangan Eko Ernada menjadi penting untuk membaca ulang posisi Prancis. Apakah kepentingan nasional Paris benar-benar sejalan dengan nilai kemanusiaan yang mereka gaungkan, atau justru masih tersandera oleh kalkulasi politik? Pertanyaan itu makin relevan ketika Gaza terus menjadi pusat perhatian dunia, sementara respons internasional belum menunjukkan arah yang tegas dan berani. Source link

Related articles

Recent articles