JAKARTA — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo angkat bicara soal kemacetan parah yang sempat melumpuhkan kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, beberapa hari lalu. Ia menyampaikan permintaan maaf kepada warga atas kekacauan lalu lintas itu, meski menegaskan persoalan tersebut tidak sepenuhnya berada di bawah kendali Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Pramono mengatakan, sebagai kepala daerah, dirinya tetap memikul tanggung jawab moral atas ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat. “Saya mohon maaf kepada seluruh warga atas kejadian itu,” ujarnya saat menanggapi insiden tersebut.
Muatan truk disebut melebihi batas
Menurut Pramono, sumber persoalan bermula dari peningkatan jumlah truk Pelindo yang melintas di kawasan pelabuhan. Ia menyebut, semestinya jumlah truk harian berada di angka 2.500 unit, namun dipaksakan naik menjadi 4.000 unit per hari. Lonjakan itu kemudian memicu penumpukan kendaraan dan membuat arus lalu lintas tersendat parah.
Pramono menilai situasi tersebut menunjukkan lemahnya pengelolaan di kawasan Tanjung Priok. Ia juga mengungkapkan, Kepala Dinas Perhubungan baru memberi laporan bahwa jumlah truk harian bahkan sudah mencapai 7.000 unit. Angka itu, kata dia, semakin memperburuk kepadatan di lapangan.
Pramono minta penanganan serius
Pramono mengaku resah dengan kondisi itu dan menegaskan akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait agar kemacetan serupa tidak kembali terjadi. Ia berharap ada pembenahan serius dalam pengaturan arus kendaraan, terutama di jalur yang menjadi simpul penting aktivitas logistik di Jakarta Utara.
Ia menekankan bahwa persoalan di Tanjung Priok tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena berdampak langsung pada mobilitas warga dan aktivitas ekonomi di sekitarnya. Dalam pandangannya, kejadian ini menjadi peringatan bahwa pengelolaan lalu lintas di kawasan pelabuhan harus lebih disiplin dan profesional.
Source link
