Batam — Keterbatasan air bersih dan listrik kerap menjadi persoalan mendasar di banyak lembaga pendidikan, termasuk pesantren. Di Batam, persoalan itu kini dijawab lewat kolaborasi yang melibatkan Pegadaian, 23 BUMN, dan Universitas Jenderal Soedirman untuk menghadirkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) serta sistem Reverse Osmosis (RO) air laut di Pondok Pesantren Darussalam Al-Gontory.
Solusi teknologi untuk kebutuhan dasar pesantren
Melalui inisiatif ini, Pegadaian bertindak sebagai koordinator dalam penyediaan teknologi yang ditujukan untuk menjawab kebutuhan paling mendasar di lingkungan pesantren. PLTS disiapkan untuk membantu pasokan listrik agar lebih stabil, sementara sistem RO dipasang untuk mengolah air laut menjadi air bersih yang layak digunakan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen Pegadaian dalam menjalankan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Di tengah tantangan akses sumber daya di wilayah pesisir, pendekatan berbasis teknologi dinilai lebih tepat karena tidak hanya memberi bantuan sesaat, tetapi juga menawarkan solusi yang bisa dimanfaatkan dalam jangka panjang.
Dukungan untuk proses belajar santri
Direktur Pegadaian, Eka Pebriansyah, menekankan bahwa pendidikan yang baik tak bisa dilepaskan dari ketersediaan infrastruktur dasar yang memadai. Menurut dia, listrik dan air bersih adalah penopang utama agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan nyaman dan produktif.
Di Pondok Pesantren Darussalam Al-Gontory, kehadiran dua fasilitas ini diharapkan memberi dampak langsung pada aktivitas para santri. Dengan pasokan listrik yang lebih terjaga dan akses air bersih yang lebih pasti, lingkungan belajar di pesantren itu diharapkan menjadi lebih layak dan mendukung.
Kolaborasi lintas lembaga
Kerja sama antara BUMN, perguruan tinggi, dan pesantren ini menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan sosial tidak selalu harus bertumpu pada satu pihak. Keterlibatan Universitas Jenderal Soedirman dalam proyek ini juga memperlihatkan bahwa pendekatan akademik dan teknologi bisa berjalan seiring dengan misi sosial.
Bagi Pegadaian, proyek di Batam bukan sekadar penyaluran bantuan, melainkan upaya membangun model keberlanjutan yang bisa memberi manfaat nyata bagi komunitas pesantren. Dalam konteks itu, kolaborasi menjadi kunci agar kebutuhan air bersih dan energi di wilayah yang menghadapi keterbatasan serupa dapat dijawab dengan lebih terukur dan berkelanjutan.
Source link
