28.3 C
Jakarta

Mikel Arteta Sesalkan Kepergian Chido Obi-Martin ke Manchester United

Published:

Mikel Arteta tak menutupi rasa kecewanya saat membahas kepergian Chido Obi-Martin ke Manchester United. Menjelang laga Arsenal kontra United, manajer The Gunners itu mengakui bahwa ia ikut terlibat dalam proses yang membuat penyerang muda berusia 17 tahun tersebut akhirnya memilih hengkang pada musim panas lalu.

Arsenal Kehilangan Talenta Muda

Obi-Martin kini mulai mendapat menit bermain di tim utama Manchester United, sebuah perkembangan yang sekaligus menegaskan potensi besar yang sejak lama melekat pada dirinya. Arteta menilai, situasi seperti ini memang kerap menyakitkan bagi klub, terutama ketika pemain muda memutuskan mencari jalan berbeda untuk kariernya.

“Sangat disayangkan ketika seorang pemain memutuskan untuk pergi,” kata Arteta, seraya menegaskan bahwa tidak banyak yang bisa dilakukan untuk menahan keputusan itu. Ia juga menyebut langkah serupa yang diambil Ayden Heaven pada Januari, sebagai bagian dari dinamika yang tak selalu bisa dicegah oleh klub.

Arteta Akui Ada Peran dalam Kepindahan

Arteta tidak mengelak bahwa dirinya memiliki peran dalam perjalanan Obi-Martin menuju Old Trafford. Namun, ia menegaskan keputusan akhir tetap berada di tangan sang pemain. Dalam pandangannya, Arsenal hanya bisa berupaya meyakinkan, bukan memaksa. Sikap itu membuat kepergian talenta muda kerap menjadi momen yang sulit diterima, apalagi ketika pemain tersebut dianggap punya masa depan cerah.

Meski kecewa, Arteta tetap memberikan penilaian positif terhadap kualitas Obi-Martin. Menurutnya, sang pemain adalah salah satu talenta muda yang menjanjikan dan memiliki kemampuan untuk berkembang lebih jauh. Penampilan awalnya di United memperkuat anggapan itu.

Arsenal Berpotensi Merasakan Dampaknya

Di sisi lain, Arsenal tengah menghadapi persoalan cedera di lini depan. Kondisi itu membuat kepergian Obi-Martin terasa semakin kontras, terlebih saat klub bersiap menghadapi mantan pemain mudanya sendiri. Dalam situasi seperti ini, keputusan yang dulu tampak sebagai bagian dari proses biasa bisa berubah menjadi penyesalan yang lebih besar ketika kebutuhan tim justru sedang mendesak.

Source link

Related articles

Recent articles