JAKARTA — Di balik operasi kapal yang bergerak lintas samudra, ada sisi lain yang kerap luput dari perhatian: tekanan mental para awak kapal. PT Pertamina International Shipping (PIS) kini menaruh perhatian lebih besar pada persoalan itu dengan menggandeng International Transport Workers’ Federation (ITF) dan Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI) untuk memperkuat perlindungan kesehatan mental pelaut.
Fokus pada kesehatan mental awak kapal
Direktur Armada PIS, M. Irfan Zainul Fikri, menegaskan bahwa kesehatan mental bukan isu sampingan dalam dunia pelayaran. Menurut dia, kondisi psikologis awak kapal dapat memengaruhi kinerja di lapangan, termasuk saat harus mengambil keputusan cepat dalam situasi darurat di laut. Dalam pekerjaan yang menuntut kesiapsiagaan tinggi, gangguan mental dapat berimbas bukan hanya pada individu, tetapi juga pada keselamatan operasional.
Melalui nota kesepakatan dengan ITF, PIS akan mendorong program yang lebih komprehensif untuk mendukung kesehatan mental awak kapal. Program itu mencakup pelatihan serta dukungan psikososial, dua aspek yang dinilai penting untuk membantu pelaut menghadapi tekanan kerja selama bertugas jauh dari daratan.
Kolaborasi dengan ITF dan KPI
Kerja sama ini tidak berdiri sendiri. PIS juga melibatkan KPI, yang sebelumnya telah meneken komitmen strategis dengan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan pelaut di Tanah Air. Dengan keterlibatan tiga pihak ini, upaya perlindungan terhadap awak kapal diposisikan sebagai bagian dari agenda yang lebih luas, bukan sekadar program internal perusahaan.
Di tingkat internasional, langkah tersebut sejalan dengan inisiatif global ITF untuk melindungi hak-hak pekerja maritim dan memperbaiki kesejahteraan mereka. Bagi industri pelayaran, pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa isu kesehatan mental mulai ditempatkan sejajar dengan aspek keselamatan dan produktivitas kerja.
Isyarat perubahan dalam industri pelayaran
Komitmen PIS dalam memperhatikan kesejahteraan mental awak kapal memberi sinyal bahwa perusahaan pelayaran mulai melihat manusia sebagai pusat dari rantai operasional. Dalam pekerjaan yang menuntut disiplin tinggi, waktu kerja panjang, dan keterpisahan dari keluarga, dukungan psikologis dapat menjadi faktor penentu ketahanan pelaut di lapangan.
Kolaborasi ini diharapkan membuka jalan bagi perlindungan yang lebih nyata bagi awak kapal, terutama saat mereka menghadapi tekanan kerja yang kerap tidak terlihat dari permukaan. Di industri yang bergantung pada ketepatan keputusan dan kesiapan fisik, perhatian pada kesehatan mental kini menjadi kebutuhan yang tak bisa lagi ditunda.
