Berat Djimsiti: Serangan Mematikan dan Strategi Berbalik
Atalanta sedang berada di fase yang tidak nyaman. Di Liga Champions, peluang datang silih berganti, tetapi gol tak kunjung lahir saat mereka bermain imbang 0-0 melawan Celtic. Di saat yang sama, badai cedera ikut mempersempit ruang gerak tim asuhan Gian Piero Gasperini, membuat ritme permainan mereka di Eropa maupun Serie A tak lagi setajam biasanya.
Djimsiti Tak Cari Alasan
Bek tengah Atalanta, Berat Djimsiti, memilih berbicara lugas setelah timnya tersingkir dari Club Brugge dengan agregat 5-2. Ia tidak menutup-nutupi bahwa lawan tampil lebih efektif, terutama lewat serangan balik yang berulang kali memaksa Atalanta bekerja ekstra di lini belakang. Bagi Djimsiti, Brugge memang membuat Atalanta kesulitan, dan itu menjadi bagian dari realitas yang harus diterima, bukan dibantah.
Sikap itu memperlihatkan bahwa Atalanta tengah berusaha menjaga kepala tetap dingin di tengah hasil yang tak ideal. Kekalahan dari Brugge menambah daftar pukulan yang mereka terima dalam beberapa pekan terakhir, setelah sebelumnya juga tersingkir dari Coppa Italia usai kalah dari Bologna.
Berpaling ke Serie A
Dengan pintu di Eropa tertutup dan langkah di Coppa Italia terhenti, fokus Atalanta kini sepenuhnya tertuju ke Serie A. Djimsiti menekankan pentingnya tim memetik pelajaran dari kesalahan yang sudah terjadi, bukan tenggelam di dalamnya. Menurut dia, Atalanta harus memperbaiki performa secara bertahap dan kembali menemukan kestabilan permainan yang sempat menjadi kekuatan utama mereka.
Langkah Kecil, Target Besar
Djimsiti juga menyoroti kebutuhan tim untuk mengisi ulang energi dan menjalani setiap laga secara terpisah. Pendekatan itu dinilai penting agar Atalanta tidak kembali terjebak dalam tekanan beruntun dari jadwal padat dan hasil negatif. Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya ideal, mereka tetap memegang ambisi untuk bangkit dan memperbaiki posisi di klasemen Serie A.
Atalanta kini berada di titik yang menuntut lebih dari sekadar semangat. Mereka harus membuktikan bahwa rentetan kegagalan di kompetisi berbeda bukan akhir dari musim, melainkan titik balik untuk tampil lebih rapi, lebih efisien, dan lebih tajam saat peluang kembali datang.
