TNI Angkatan Laut kembali menempatkan Bali sebagai panggung diplomasi maritim. Di Pelabuhan Tanjung Benoa, Denpasar, latihan 5th Multilateral Naval Exercise Komodo 2025 (MNEK 2025) resmi dibuka Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali, dengan kehadiran 38 negara undangan. Ajang ini tak sekadar unjuk kesiapan armada, melainkan juga menegaskan bahwa laut kini menjadi ruang kerja sama yang makin penting di tengah meningkatnya kebutuhan penanganan bencana dan misi kemanusiaan.
Latihan maritim multilateral dengan fokus kemanusiaan
MNEK 2025 mengusung tema Maritime Partnership for Peace and Stability. Fokus utamanya adalah penanggulangan bencana alam dan bantuan kemanusiaan, termasuk Humanitarian Assistance/Disaster Relief. Dalam latihan ini, sebanyak 19 kapal perang asing, 7 helikopter, dan 3 pesawat patroli maritim atau MPA dilibatkan. TNI AL sendiri mengerahkan 19 kapal perang Republik Indonesia (KRI) untuk mendukung rangkaian kegiatan tersebut.
Menurut Laksamana TNI Muhammad Ali, penyelenggaraan MNEK 2025 merupakan bagian dari tugas pokok TNI AL dalam operasi militer selain perang. Ia juga menegaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan implementasi Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 Pasal 9, yang menempatkan TNI AL tidak hanya sebagai kekuatan tempur, tetapi juga sebagai bagian dari respons negara dalam situasi nonperang.
Kerja sama lintas negara dalam menghadapi bencana
Lebih dari sekadar latihan gabungan, MNEK 2025 dirancang untuk memperkuat kerja sama bilateral, regional, dan multilateral di antara negara peserta. Dalam skema latihan, para peserta diajak membangun pola kerja sama saat menghadapi bencana alam, mulai dari mitigasi, pengerahan personel, hingga penyiapan gugus tugas untuk membantu wilayah yang terdampak.
Ruang kerja sama itu juga mencakup bantuan sosial, perbaikan infrastruktur, dan berbagai aktivitas kemanusiaan lain. Dengan format seperti ini, latihan tidak hanya menguji kesiapan unsur militer, tetapi juga kemampuan negara-negara peserta bergerak cepat ketika krisis terjadi. Di tengah tantangan bencana yang kerap melintasi batas negara, forum semacam MNEK menjadi sarana untuk menyamakan prosedur dan memperkuat koordinasi.
Diplomasi maritim Indonesia di tengah isu kawasan
Melalui MNEK 2025, TNI AL bersama negara-negara peserta mengimplementasikan kerja sama mitigasi bencana dengan menyiapkan personel dan gugus tugas yang dapat digerakkan saat keadaan darurat. Di titik ini, latihan maritim tersebut juga mencerminkan arah kebijakan politik luar negeri Indonesia yang menekankan kolaborasi dan stabilitas kawasan.
Keberadaan 38 negara undangan di Bali memberi pesan bahwa laut bukan hanya jalur pertahanan, tetapi juga jembatan diplomasi. Dalam konteks itu, MNEK 2025 memperlihatkan bagaimana kekuatan maritim dapat diarahkan untuk membangun kepercayaan, memperluas jejaring kerja sama, dan memperkuat solidaritas saat bencana datang tanpa memberi banyak waktu untuk bersiap.
