28.8 C
Jakarta

Standar Keamanan Terancam: 75% Pembagian Galon Guna Ulang

Published:

JAKARTA — Temuan Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) kembali menyorot rantai distribusi air minum dalam kemasan galon guna ulang yang dinilai jauh dari standar keamanan. Dalam diskusi yang digelar KKI, terungkap bahwa dari penelitian selama November hingga Desember 2024 di lima kota besar, sebanyak 75 persen distribusi galon tidak memenuhi ketentuan yang seharusnya dijalankan.

Galon Terpapar Panas di Perjalanan

Salah satu temuan yang paling mengkhawatirkan adalah cara pengangkutan galon dari berbagai merek yang masih kerap menggunakan truk bak terbuka tanpa penutup. Kondisi itu membuat galon terpapar sinar matahari langsung selama proses pengiriman. Situasi ini dinilai berpotensi meningkatkan risiko luruhan Bisphenol A atau BPA dari galon berbahan polikarbonat.

Ketua KKI, David Tobing, menyebut praktik tersebut bertentangan dengan aturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang mengharuskan air minum dalam kemasan disimpan di tempat bersih, sejuk, dan terlindung dari paparan matahari langsung. Namun dalam praktiknya, kata dia, ketentuan itu masih sering diabaikan oleh produsen maupun distributor.

Pengawasan Distribusi Dinilai Longgar

KKI juga menyoroti pola penjualan di tingkat agen dan distributor yang disebut dilakukan tanpa standar perlindungan memadai. Galon-galon dibiarkan berada di ruang terbuka dan terpapar panas, seolah keselamatan produk berhenti hanya pada tahap produksi, bukan saat sampai ke tangan konsumen.

Menurut KKI, kondisi ini menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap jalur distribusi air minum kemasan galon guna ulang. Padahal, rantai distribusi justru menjadi titik penting yang menentukan apakah produk tetap aman dikonsumsi atau tidak.

Desakan untuk Pemerintah dan Produsen

Atas temuan itu, KKI mendesak pemerintah serta produsen memperketat pengawasan distribusi galon guna ulang. Langkah itu dinilai penting agar standar keamanan yang sudah ditetapkan tidak berhenti di atas kertas. KKI menilai, tanpa pengawasan yang lebih intensif, risiko kesehatan konsumen akan terus mengintai dari proses distribusi yang dibiarkan longgar.

Related articles

Recent articles