JAKARTA — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) membuka Festival Keluarga Indonesia sebagai bagian dari rangkaian Kongres Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama dan peringatan Hari Lahir NU ke-102. Kegiatan yang dimulai hari ini hingga Minggu besok itu menjadi ruang bagi NU untuk hadir lebih dekat di tengah keluarga Indonesia, terutama di lingkungan perkotaan, melalui gerakan khidmah yang lebih terpadu dan menyentuh kehidupan sehari-hari.
NU Menyasar Keluarga di Tengah Perubahan Zaman
Festival ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan upaya PBNU memperlihatkan bahwa isu keluarga kini menjadi bagian penting dari kerja-kerja keumatan. Di tengah perubahan pola hidup masyarakat, NU mencoba menawarkan pendekatan yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman, termasuk ketika teknologi digital semakin lekat dalam aktivitas rumah tangga.
Pengarah Kongres Keluarga Maslahat NU, Alissa Wahid, menjelaskan bahwa Gerakan Keluarga Maslahat NU dibangun atas enam dimensi utama. Keenamnya meliputi relasi maslahat, keluarga terdidik, keluarga cinta alam, keluarga sehat, keluarga sejahtera, dan keluarga moderat. Menurut dia, rumusan itu lahir dari penyesuaian terhadap dinamika sosial yang terus berubah.
Enam Dimensi Keluarga Maslahat
Alissa menekankan bahwa keluarga tidak lagi bisa dipandang sebagai ruang yang statis. Di dalamnya, ada tantangan baru yang muncul seiring perkembangan teknologi, perubahan cara berkomunikasi, hingga pergeseran pola pengasuhan. Karena itu, Gerakan Keluarga Maslahat NU diarahkan agar dapat membantu keluarga Indonesia tumbuh, bertahan, dan berkembang secara lebih sehat.
Ia juga menilai Festival Keluarga Indonesia menjadi kesempatan bagi masyarakat umum untuk mengenal lebih jauh gerakan tersebut. Melalui kegiatan ini, NU ingin mengajak publik melihat bahwa kemaslahatan keluarga bukan hanya urusan internal warga NU, melainkan bagian dari ikhtiar sosial yang lebih luas bagi Indonesia.
Ruang Pertemuan NU dan Masyarakat Kota
Dengan mengangkat konteks keluarga Indonesia di tengah kota, PBNU berupaya menunjukkan bahwa kehadiran organisasi tidak berhenti pada tradisi keagamaan, tetapi juga menjawab persoalan sosial yang dihadapi keluarga modern. Dari situ, festival ini diposisikan sebagai jembatan antara nilai-nilai keislaman yang dirawat NU dan kebutuhan keluarga masa kini yang kian kompleks.
Lewat rangkaian acara ini, PBNU berharap hubungan antara NU dan masyarakat makin erat, sekaligus menghadirkan dampak yang lebih nyata bagi keluarga Indonesia di tengah derasnya perubahan zaman.
