28.2 C
Jakarta

“Pemeriksaan Kesehatan Gratis untuk Warga Baduy: Sehat Negeriku!”

Published:

Pemeriksaan Kesehatan Gratis untuk Warga Baduy: Sehat Negeriku!

Di tengah keterbatasan akses layanan kesehatan yang masih membayangi masyarakat adat Baduy, ratusan warga dari Baduy Dalam, Baduy Luar, dan wilayah sekitarnya memadati Binong Raya, Kecamatan Bojong Manik, Kabupaten Lebak, Banten, pada 31 Desember 2024. Mereka datang untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis yang digelar Gerakan Mandalawangi Peduli. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya menjangkau warga yang selama ini sulit mendapatkan layanan medis secara rutin.

Ratusan Warga Datang, Keluhan Didominasi Penyakit Ringan hingga Infeksi

Dalam kegiatan bakti sosial tersebut, para pasien umumnya mengeluhkan gatal-gatal pada kulit, cacingan, bronkitis, mual, sakit kepala, hingga demam. Kondisi itu memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan di masyarakat Baduy bukan semata soal penyakit, tetapi juga soal lingkungan hidup, kebiasaan harian, dan sulitnya akses menuju fasilitas medis.

Dokter yang aktif dalam kegiatan sosial, dr. Munang Tampubolon, menilai lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja ikut memengaruhi tingginya risiko penyakit di kalangan warga Baduy. Ia menyoroti kebiasaan mandi tanpa sabun yang membuat masyarakat lebih rentan mengalami gangguan kulit. Karena itu, menurut dia, edukasi soal kebersihan perlu diperkuat agar pencegahan penyakit tidak berhenti pada pengobatan sesaat.

Dukungan Pemerintah dan Komunitas untuk Warga Adat

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, Kunta Wibawa Dasa Nugraha, mengapresiasi langkah Gerakan Mandalawangi Peduli yang secara konsisten menghadirkan layanan kesehatan bagi Baduy Dalam dan Baduy Luar. Ia menilai kegiatan semacam ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, terutama kelompok yang tinggal jauh dari pusat layanan.

Ketua Mandalawangi Peduli, Rahmi Hidayati, mengatakan gerakan kesehatan masyarakat menjadi fokus utama organisasinya. Menurut dia, masyarakat adat termasuk Baduy menjadi perhatian karena kondisi kesehatannya masih perlu banyak dukungan. Ia menegaskan, layanan yang datang langsung ke masyarakat menjadi cara yang lebih realistis dibanding menunggu warga menjangkau fasilitas kesehatan yang letaknya jauh.

Akses Layanan Masih Tersendat

Ayah Mursid, tokoh Baduy Dalam, mengungkapkan bahwa masyarakat adat masih menghadapi kesulitan besar untuk mengakses layanan kesehatan. Hal senada disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Lebak, Budhi Mulyanto, yang menyebut Baduy memang memiliki hambatan geografis untuk menjangkau puskesmas maupun pustu. Karena itu, dukungan terhadap petugas kesehatan yang turun langsung ke lapangan dinilai penting agar pelayanan kepada warga lebih efektif.

Budhi juga menyoroti rendahnya kepemilikan jaminan kesehatan di Baduy. Dari data yang ada, baru sekitar 30 persen penduduk yang memiliki jaminan tersebut. Kementerian Kesehatan disebut siap menjamin warga Baduy, tetapi kelengkapan data kependudukan masih menjadi kendala utama. Di sisi lain, stunting juga masih menjadi persoalan, meski secara kecerdasan kondisi anak-anak Baduy disebut tetap normal.

Di tengah berbagai keterbatasan itu, layanan kesehatan yang datang langsung ke Binong Raya menjadi pengingat bahwa akses medis bagi masyarakat adat masih memerlukan kerja bersama. Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat menghubungi hotline Halo Kemenkes.

Related articles

Recent articles