Bayani, prajurit Papua yang mengubah arah operasi Mapenduma
Di tubuh KOPASSUS, nama Warrant Officer TNI (Ret.) Bayani lama dikenal bukan hanya karena keberaniannya, tetapi juga karena naluri lapangan yang tajam. Ia disebut sebagai prajurit Papua yang tenang, berani, dan memiliki kemampuan menembak serta melacak jejak yang luar biasa. Dalam operasi pembebasan sandera Mapenduma pada 1996, kualitas itulah yang membuat pendapatnya diperhitungkan saat intelijen di lapangan justru saling bertentangan.
Bayani, yang mula-mula dikenalnya saat masih berpangkat sersan, direkomendasikan oleh Mayor Zacky Anwar. Menurut cerita yang disampaikan, Bayani adalah prajurit yang lihai bergerak di hutan, kuat secara fisik, dan mampu menyusup tanpa suara. Ia bahkan disebut pernah masuk sendirian ke markas gerilya musuh tanpa senjata, lalu merebut senjata lawan dan membawa mereka sebagai tawanan. Di lingkungan KOPASSUS, Bayani juga dikenal sebagai sosok yang santai, sering tersenyum, tetapi tetap dingin saat bertugas.
Operasi di jantung Papua yang serba terbatas
Operasi Mapenduma digelar untuk membebaskan 26 peneliti, termasuk tujuh warga asing, dari rombongan Ekspedisi Lorentz 1995 yang disandera kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) di dekat Mapenduma, Lembah Baliem, Papua. Saat itu, tugas penanganan operasi berada di bawah kendali Jenderal Feisal Tanjung. Tantangannya bukan main: wilayah sasaran berada jauh di pedalaman, belum dipetakan dengan baik, dan TNI tidak memiliki dukungan teknologi modern seperti satelit, drone, atau pesawat pengintai.
Peralatan dokumentasi pun terbatas, sementara peta topografi skala 1:50.000 belum tersedia. TNI hanya mengandalkan satu peta sketsa tangan yang diperbanyak untuk kebutuhan pasukan. GPS memang dipakai, tetapi masih bersifat sipil dan belum setara perangkat militer. Dalam medan berbukit dengan lembah curam, komunikasi radio juga kerap tak bisa diandalkan sehingga pasukan dibekali telepon satelit.
Kasuari Team dan benturan dua intelijen
Untuk mengatasi medan yang sulit, ia membentuk tim pelacak inti gabungan KOPASSUS dan Kodam Cenderawasih, mayoritas beranggotakan prajurit asli Papua. Tim ini diberi nama Kasuari Team dan dipimpin Bayani, yang dijuluki “Papuan Rambo”. Tugas mereka adalah menyusup ke titik-titik yang sulit dijangkau, melacak pergerakan sandera dan penyandera, serta menjadi cadangan jika serangan pertama tidak berhasil.
Menjelang operasi, muncul informasi dari penasihat Inggris dari SAS. Mereka mengaku berhasil menyelundupkan alat penjejak saat mengirim obat, makanan, dan pakaian melalui ICRC, lalu mengklaim bisa menentukan posisi sandera secara tepat. Koordinat yang mereka berikan ternyata berada di sebuah bukit tinggi yang terlihat dari pos komando, tetapi di luar enam titik sasaran yang sudah disiapkan intelijen TNI.
Di tengah dua informasi yang saling bertentangan, Bayani justru menolak mentah-mentah data dari pihak Inggris. Dengan logat Papua yang khas, ia menilai lokasi itu tak masuk akal karena tak ada sumber air dan mustahil banyak orang bertahan di sana. Bagi Bayani, pengetahuan lapangan jauh lebih penting daripada bacaan alat elektronik dari luar.
Keputusan yang akhirnya terbukti tepat
Akhirnya, sang perwira memilih mempercayai pasukannya sendiri. Serangan udara diluncurkan ke enam titik yang ditentukan tim intelijen TNI, dan salah satunya ternyata tepat. Operasi itu berhasil membebaskan para sandera, meski tiga dari 26 sandera tewas dibunuh penyandera. Sisanya berhasil diselamatkan, termasuk seluruh warga asing.
Keberhasilan Mapenduma kemudian dipandang sebagai capaian penting bagi TNI dan pemerintah Indonesia. Dalam pengakuan sang perwira, keberhasilan itu bukan semata soal strategi dan persenjataan, melainkan juga soal keberanian Bayani untuk bersikap tegas saat memilih membantah intelijen yang datang dari luar. Source link
