Di tengah riuhnya kontestasi politik yang kerap dipenuhi adu popularitas, Ketua DPP Partai Perindo Bidang Politik dan Ideologi Manik Marganamahendra mengingatkan satu hal yang dinilainya mulai terpinggirkan: isi gagasan. Menurut dia, publik, terutama generasi muda, perlu lebih kritis menilai calon pemimpin dari visi dan misi yang ditawarkan, bukan semata dari ketenaran sosoknya.
Politik masih berkutat pada figur
Manik menyampaikan pandangan itu saat menjadi pembicara dalam Politics Reborn vol 1 bertajuk Siapa Layak Pimpin Jakarta? di MNC Conference Hall, iNews Tower, Jakarta, Jumat (5/7/2024). Ia menilai, perbincangan politik di Indonesia masih terlalu sering berhenti pada urusan pasangan calon, alih-alih masuk ke substansi program yang hendak dijalankan.
“Kalau kita nonton televisi sekarang, itu seperti biro jodoh. Misalnya Anies sama Kaesang, Anies sama Sohibul Iman. Semua calon dibicarakan hanya sebatas siapa dengan siapa dan siapa sebagai wakilnya siapa,” ujar Manik.
Menurut dia, pola semacam itu membuat diskusi publik kehilangan arah. Hal yang mestinya lebih dulu dijelaskan oleh para kandidat adalah persoalan apa yang hendak dibereskan, serta bagaimana cara mereka memperbaiki kota atau pemerintahan yang akan dipimpin.
Visi misi perlu lebih sering dibicarakan
Manik, yang juga kader partai pimpinan Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo dan Ketua Harian Nasional DPP Partai Perindo Angela Tanoesoedibjo, menilai sosialisasi visi dan misi dari partai politik masih belum cukup kuat. Akibatnya, masyarakat lebih akrab dengan nama-nama calon ketimbang arah kebijakan yang mereka bawa.
Ia menegaskan, pemimpin seharusnya mendapat tekanan dari publik untuk menjelaskan program secara terbuka. Dengan begitu, pilihan politik tidak berhenti pada pertimbangan emosional atau popularitas, melainkan pada kemampuan kandidat menjawab kebutuhan masyarakat.
“Sehingga pemimpin kita bisa mendapatkan pressure dari masyarakat bahwa yang mereka butuhkan bukan a dengan b, b dengan c, dan lainnya, tapi a membawa apa, b mau berbuat apa,” ucapnya.
Generasi muda diminta lebih kritis
Dalam pandangannya, pemilih milenial memegang peran penting dalam mengubah cara masyarakat memandang politik. Manik berharap kelompok muda tidak mudah larut dalam narasi populer, tetapi membiasakan diri membaca lebih jauh isi visi dan misi para kontestan.
Ia menilai, ketertarikan yang lebih dalam terhadap program kandidat akan membantu publik menentukan pilihan secara lebih rasional. Pada akhirnya, pemimpin yang terpilih diharapkan tidak hanya dikenal luas, tetapi juga mampu menghadirkan kebijakan yang benar-benar menjawab persoalan warga.
(jon)
Sumber link
