25.8 C
Jakarta

Tokoh-tokoh yang Membentuk Prabowo Subianto

Published:

Prabowo Subianto kerap dipotret sebagai sosok yang keras dan tegas. Namun, di balik citra itu, ada satu hal yang menonjol: ia dibentuk oleh kebiasaan belajar dari banyak orang. Dari ulama, jenderal, tokoh bangsa, hingga pemimpin dunia, Prabowo disebut tak hanya mendengar, tetapi juga menyerap pandangan yang ia anggap penting bagi bangsa.

Dibentuk oleh keluarga, ulama, dan tokoh bangsa

Sejak kecil, Prabowo tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan tradisi keagamaan dan pemikiran kebangsaan. Ia pernah hidup bertetangga dengan K.H. Hasyim Asyari, kakek dari Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Kakek dan ayahnya, Prof. Sumitro Djojohadikusumo, disebut terus mengingatkan Prabowo agar belajar agama sekaligus belajar kehidupan dari para sesepuh.

Jejak itu terlihat dalam kedekatannya dengan sejumlah ulama, seperti K.H. Maimun Zubair dan Letnan Jenderal TNI (Purn.) Ahmad Kemal Idris. Prabowo juga menjalin hubungan hangat dengan Habib Umar bin Hafidz dari Yaman, Syekh H. Hasyim Al-Syarwani, K.H. Abdullah Gymnastiar, K.H. Muhammad Arifin Ilham, hingga Ustaz Abdul Somad.

Di antara tokoh agama di Indonesia, kedekatan Prabowo dengan Gus Dur disebut sebagai yang paling kuat. Hubungan itu berawal sejak masa kecil dan terus terjaga hingga akhir hayat Gus Dur. Dari kedekatan tersebut, Gus Dur pernah menilai Prabowo sebagai sosok yang jujur dan tegas, serta menyebut Indonesia membutuhkan pemimpin seperti dirinya.

Jejak Soekarno dan penghormatan pada para pendahulu

Prabowo juga memiliki hubungan emosional dengan Bung Karno. Saat masih kecil, Prof. Sumitro pernah membawanya bertemu langsung dengan Presiden pertama RI itu. Prabowo mengaku masih mengingat bagaimana dirinya sempat diangkat-angkat oleh Sukarno.

Meski Prof. Sumitro pernah berselisih paham dengan Ir. Sukarno, sang ayah tetap menegaskan bahwa Sukarno adalah tokoh besar yang mempersatukan bangsa dan mendirikan negara Indonesia. Pandangan itu melekat pada Prabowo dan membuatnya kerap disebut sebagai “anak ideologis” Sang Proklamator.

Penghormatan itu pula yang mendorong Prabowo mendirikan monumen Sukarno di depan kantor Kementerian Pertahanan. Peresmian monumen tersebut dilakukan bersama keluarga besar Presiden Sukarno.

Selain Sukarno, Prabowo juga kerap menunjukkan kekaguman pada Presiden Suharto, Presiden Gus Dur, dan perjuangan Pangeran Diponegoro. Dalam berbagai kesempatan, ia disebut konsisten mendoakan para pemimpin bangsa yang telah wafat.

Belajar dari para jenderal, hingga pemimpin dunia

Sebagai prajurit, Prabowo banyak menyerap pengalaman dari senior-seniornya di TNI, antara lain Jenderal Besar TNI (Purn.) A.H. Nasution, Jenderal TNI (Purn.) M. Jusuf, Jenderal TNI (Purn.) Maraden Saur Halomoan Panggabean, dan Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno. Sikap hormat kepada senior itu tidak berhenti saat ia masih aktif di militer, tetapi juga berlanjut ketika menjabat Menteri Pertahanan.

Di posisi itu, Prabowo kerap mengundang para senior untuk memberikan masukan terkait penguatan postur pertahanan Indonesia. Pola yang sama ia tunjukkan dalam hubungan luar negeri. Prabowo disebut menjalin kedekatan dengan tokoh-tokoh internasional yang juga berfokus pada kepentingan bangsanya, seperti PM Timor Leste Xanana Gusmao, Presiden Uni Emirat Arab Syekh Mohammed Bin Zayed, Raja Yordania Abdullah II, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Presiden Perancis Emmanuel Macron, serta Adik dari Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman.

Ia juga bertemu dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Lloyd Austin, PM Palestina Mohammad I.M. Shtayyeh, dan PM Malaysia Anwar Ibrahim. Dalam bingkai itu, Prabowo tampil sebagai figur yang membangun relasi bukan sekadar untuk diplomasi, melainkan juga untuk menyerap pengalaman dari para pemimpin yang dianggap punya visi serupa.

Sumber: Buku Prabowo: Rekam Foto Sang Patriot hal. 152-173

Source link

Related articles

Recent articles