Satyagraha: Prinsip Panduan Aksi Kita
By Prabowo Subianto, excerpted from “National Transformation Strategy: Towards a Golden Indonesia 2045,” pages 230-234, fourth softcover edition.
Di tengah seruan untuk perubahan nasional, Prabowo Subianto menempatkan satu kata kunci sebagai landasan gerakan: satyagraha. Istilah yang identik dengan perjuangan tanpa kekerasan itu ia gunakan untuk menegaskan bahwa pertarungan politik dan kebangsaan, menurut dia, harus bertumpu pada kebenaran, keteguhan, dan keberanian menghadapi tekanan. Dalam penggalan buku National Transformation Strategy: Towards a Golden Indonesia 2045, ia juga menolak anggapan bahwa Indonesia mudah diatur oleh kekuatan besar yang datang dengan modal dan kepentingan.
Seruan untuk tidak tunduk pada kekuatan modal
Prabowo membuka pesannya dengan ajakan agar masyarakat memberi dukungan yang nyata. Ia menyebut ada investor besar yang, menurut dia, memandang Indonesia sebagai wilayah yang bisa dimanipulasi, bahkan dengan keyakinan bahwa warga dan pemimpin dapat dibeli. Dari situ, ia menekankan pentingnya kewaspadaan kolektif. Indonesia, kata dia, tidak boleh lengah, tidak boleh pasif, dan harus saling mengingatkan serta saling menopang sebagai bangsa besar.
Ia juga menaruh perhatian pada persoalan kedaulatan ekonomi. Dalam naskah itu, Prabowo mempertanyakan apakah wajar bila kekayaan bangsa terus mengalir ke luar negeri sementara rakyat hanya ditempatkan sebagai pasar, buruh murah, atau sekadar pelengkap dalam sistem ekonomi. Pertanyaan itu kemudian diarahkan pada pilihan politik yang menurutnya tegas: menerima keadaan, atau bergerak memperbaiki keadaan dengan memimpin rakyat.
Satyagraha sebagai jalan perjuangan
Untuk menjawab tantangan itu, Prabowo mengaitkan perjuangan Indonesia dengan tradisi tokoh-tokoh besar dunia seperti Mahatma Gandhi di India, Martin Luther King di Amerika Serikat, dan Nelson Mandela di Afrika Selatan. Bagi dia, satyagraha bukan sekadar slogan moral, melainkan perjuangan tanpa kekerasan yang terus-menerus, berakar pada kebenaran, dan merangkul banyak orang.
Ia menegaskan bahwa kebenaran pada akhirnya akan menang, asalkan ada keberanian, daya tahan, dan kesediaan berkorban. Dalam bagian lain, ia menyebut para pendiri bangsa dan tokoh perjuangan seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Pak Dirman, Gubernur Suryo, dan I Gusti Ngurah Rai sebagai teladan bahwa keteguhan menghadapi penderitaan akan membawa kemenangan pada akhirnya.
Bangun kekuatan rakyat dari bawah
Prabowo juga menyinggung HANKAMRATA, atau pertahanan dan keamanan rakyat semesta, sebagai bukti bahwa kekuatan rakyat pernah efektif menghadapi penjajahan. Menurut dia, kekuatan itu harus disusun dengan rapi dan terus dipelihara. Ia bahkan mendorong pembentukan jejaring dari orang ke orang, dimulai dari kelompok kecil, lalu berkembang lebih luas melalui diskusi di rumah-rumah dan lingkungan sekitar.
Dalam ajakannya, Prabowo meminta masyarakat menjelaskan isi buku kepada keluarga, tetangga, dan teman, lalu mengajak mereka aktif dalam demokrasi. Ia menolak politik yang dibangun lewat penghinaan atau kebencian. Sebaliknya, ia menekankan pentingnya pengetahuan, kerendahan hati, serta keberanian membela yang benar. Di bagian akhir, ia menegaskan bahwa kekuasaan tidak boleh dikejar semata-mata sebagai posisi, melainkan harus diraih secara sah, konstitusional, demokratis, dan dengan hati yang berpihak pada bangsa.
Source link
