25.8 C
Jakarta

Gus Baha Jokingly Suggests Solving Problems by Appointing as Ministers, Prabowo and AHY Get a Nudge?

Published:

Gus Baha kembali mencuri perhatian publik setelah melontarkan komentar bernada humor saat mengisi materi di Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam forum dialog kebangsaan bertajuk “Merawat Ukhuwah Kebangsaan Menjaga Persatuan Indonesia”, ulama Ahmad Bahauddin Nursalim itu mengulas cara menyelesaikan persoalan tanpa mengorbankan persatuan. Di tengah suasana santai, Gus Baha menyampaikan gagasan yang terdengar ringan, tetapi menyimpan pesan serius: konflik sebaiknya tidak dibiarkan berkembang menjadi permusuhan.

Solusi kekeluargaan, bukan memperpanjang sengketa

Gus Baha menekankan bahwa penyelesaian masalah idealnya ditempuh lewat pendekatan kekeluargaan, sebagaimana semangat yang ia kaitkan dengan ajaran Al Quran. Menurut dia, hubungan antarpihak yang berselisih perlu dijaga agar masalah tidak berubah menjadi dendam atau kedengkian yang berkepanjangan. Dalam pandangannya, banyak perkara sebenarnya bisa diselesaikan tanpa harus dibawa ke jalur pengadilan, selama ada itikad untuk menjaga ukhuwah dan membuka ruang damai.

Guatan humor soal jabatan menteri

Di sela penjelasannya, Gus Baha menyelipkan contoh yang memancing tawa hadirin. Ia menyebut, salah satu cara menyelesaikan perselisihan bisa saja dilakukan dengan “mengangkat orang yang bersengketa menjadi menteri”. Ucapan itu jelas disampaikan secara jenaka, namun justru membuat pesan utamanya lebih mudah ditangkap: konflik perlu dikelola dengan cara yang merangkul, bukan menajamkan perbedaan.

Respons warganet dan tafsir politik

Pernyataan tersebut kemudian ramai dibicarakan di media sosial. Sejumlah warganet mengaitkannya dengan dinamika politik nasional, termasuk membandingkannya dengan isu calon menteri dan calon presiden. Meski banyak dibaca sebagai guyonan, komentar Gus Baha tetap meninggalkan kesan mendalam karena menyinggung hal yang sering luput dalam perdebatan publik: menjaga hubungan baik di atas kepentingan sesaat. Dalam konteks itu, pesan yang dibawa Gus Baha terasa relevan, terutama ketika ruang publik kerap dipenuhi polarisasi yang mudah menyulut jarak antarkelompok.

Source link

Related articles

Recent articles