28.6 C
Jakarta

CSIS Konfirmasi Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka Memenangkan Satu Putaran dalam Quick Count: Demokrasi Tetap Pilihan Ideal

Published:

Jakarta — Hasil hitung cepat Pemilu 2024 mulai mengerucut pada satu kesimpulan: pasangan nomor urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, bukan hanya unggul, tetapi juga nyaris pasti menang dalam satu putaran. Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menilai capaian itu bukan kejutan besar, melainkan puncak dari tren elektabilitas yang terus menanjak menjelang hari pemungutan suara.

Quick count mengonfirmasi keunggulan Prabowo-Gibran

Ketua Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Arya Fernandes, mengatakan hasil quick count dari sejumlah lembaga survei mengonfirmasi kemenangan Prabowo-Gibran di kisaran 57-58 persen. Angka tersebut, menurut dia, bukan sekadar unggul tipis, melainkan menunjukkan jarak yang cukup jauh dari para pesaingnya.

“Hasil quick count (QC) atau hitung cepat sejumlah lembaga survei mengonfirmasi kemenangan Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka di kisaran 57-58 persen,” kata Arya melalui keterangan resmi, Rabu (21/2).

Ia menambahkan, perolehan itu bahkan melampaui rekor kemenangan kandidat presiden dan wakil presiden pada pemilu sebelumnya. Dalam catatan CSIS, angka tersebut juga melampaui capaian Presiden Joko Widodo pada Pemilu 2019 yang meraih 55,50 persen.

Jalur satu putaran dinilai sudah terbuka lebar

Menurut Arya, dengan perolehan suara sebesar itu, peluang pemilu presiden berlangsung dua putaran praktis tertutup. Selain unggul secara nasional, Prabowo-Gibran juga disebut meraih dukungan yang tersebar di banyak wilayah dengan komposisi yang memenuhi syarat konstitusional.

CSIS, bersama Cyrus Network, mencatat estimasi suara Prabowo-Gibran nyaris memimpin di hampir seluruh wilayah Indonesia. Arya menyebut kondisi itu sejalan dengan ketentuan Pasal 6 ayat 3 Undang-Undang Dasar 1945, yang mensyaratkan pasangan calon memperoleh lebih dari 50 persen suara nasional dan sedikitnya 20 persen suara di lebih dari setengah jumlah provinsi.

“Dengan torehan tersebut hampir dipastikan pemilu presiden akan berlangsung dalam satu putaran,” ujar Arya.

Faktor pemilih, strategi kampanye, dan efek pemerintah

CSIS menilai kemenangan Prabowo-Gibran tidak lepas dari sejumlah faktor yang saling menguatkan. Salah satunya adalah split-ticket voting, yakni pemilih yang tidak sepenuhnya mengikuti pilihan partai koalisi mereka. Dalam pembacaan CSIS, sebagian pemilih dari kubu Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud justru beralih mendukung Prabowo-Gibran.

“Kondisi tersebut tentu menguntungkan Prabowo. Ia tidak hanya mendapatkan suara dari basis partai pendukungnya, tetapi juga mendapatkan suara dari partai koalisi lainnya,” kata Arya.

Selain itu, persepsi positif terhadap kinerja pemerintah dan kondisi ekonomi juga ikut menopang dukungan. Arya menyinggung meningkatnya alokasi bantuan sosial dan tingginya tingkat kepercayaan publik kepada Presiden. Berdasarkan survei CSIS pada Desember 2023, sebanyak 86,1 persen responden menyatakan percaya kepada Presiden.

CSIS juga mencatat perubahan strategi kampanye Prabowo-Gibran yang agresif memanfaatkan TikTok dan melibatkan influencer berpengaruh. Konten-konten Prabowo di platform itu, kata Arya, kerap viral dan ditonton puluhan juta kali, memperluas jangkauan pesan politik ke pemilih yang lebih muda.

“Kemenangan Prabowo-Gibran juga dapat dilihat dari perubahan strategi tim kampanye yang menyasar kampanye di platform TikTok serta keterlibatan influencer berpengaruh dalam tim kampanye nasional,” ujarnya.

Demokrasi tetap jadi pilihan, meski tidak tanpa catatan

Di luar soal pemenang, CSIS menilai Pemilu 2024 menandai kelanjutan proses demokrasi yang telah berjalan sejak reformasi 1998. Ini menjadi pemilu keenam yang digelar setelah perubahan politik besar tersebut.

Arya menilai, meski demokrasi Indonesia masih menyisakan banyak catatan, sistem ini tetap menjadi jalur terbaik untuk mengelola persaingan politik dan menghadapi tantangan nasional maupun global. Ia menekankan bahwa perubahan kekuasaan yang cepat menuntut kepemimpinan yang matang, bukan sekadar populer.

“Kita membutuhkan seorang negarawan yang demokrat untuk memimpin lebih dari 270 juta orang di negeri ini,” kata Arya. “Untuk menghadapi tantangan domestik dan global yang kian berat di tahun ini dan tahun-tahun ke depan, kita membutuhkan kabinet yang kompeten dan berpengalaman.”

Dalam pembacaan CSIS, hasil Pemilu 2024 bukan hanya soal siapa yang menang, melainkan juga bagaimana pemilih Indonesia kembali menegaskan arah politiknya: stabilitas, efektivitas kampanye, dan kepercayaan pada pemerintahan masih menjadi faktor yang sangat menentukan. (SENOPATI)

Source link

Related articles

Recent articles