JAKARTA SELATAN — Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan menaruh harapan besar pada pengolahan sampah di tingkat wilayah sebagai cara menekan ketergantungan pada Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Langkah ini dinilai mendesak, mengingat timbulan sampah rumah tangga di Jakarta Selatan masih sangat besar setiap harinya.
Pengolahan di sumber jadi kunci
Kepala Sudin LH Jakarta Selatan, Mohamad Amin, mengatakan pengurangan sampah ke Bantargebang hanya bisa dicapai jika sampah tidak langsung dibuang begitu saja, melainkan dipilah dan diolah terlebih dahulu. Menurut dia, tanpa proses pemilahan, volume sampah yang berujung ke TPST Bantargebang akan jauh lebih besar.
Jakarta Selatan, kata Amin, menghasilkan 1.559 ton sampah rumah tangga per hari dari 10 kecamatan. Seluruh sampah itu selama ini tetap bermuara ke Bantargebang. Karena itu, penguatan pengolahan di tingkat lokal dianggap penting agar beban pengangkutan tidak terus membengkak.
Program pengurangan sampah sudah ada, tinggal diperkuat
Amin menyebut masyarakat sebenarnya sudah mulai melakukan pemilahan sampah. Di sisi lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga telah menyiapkan sejumlah program untuk menekan volume sampah yang dikirim ke Bantargebang. Salah satunya melalui Pergub 77 tentang Pengelolaan Sampah yang mendorong setiap RW mengelola sampahnya sendiri.
Selain itu, ada pula pengembangan bank sampah, pembuatan kompos, dan berbagai skema pengolahan lain. Menurut Amin, program-program tersebut menjadi bagian dari upaya mengubah pola pengelolaan sampah dari yang semula terpusat menjadi lebih dekat ke sumbernya.
TPS 3R ditargetkan menjangkau tiap kecamatan
Amin menambahkan, keberadaan tempat pengolahan sampah berkonsep 3R di Jakarta Selatan juga diharapkan memberi dampak nyata. Saat empat TPS 3R beroperasi, kapasitas pengolahan sampah di wilayah itu diperkirakan meningkat. Salah satu contohnya adalah TPS 3R di Kelurahan Pejaten Barat, Kecamatan Pasar Minggu, yang mampu mengolah 50 ton sampah per hari. Padahal, produksi sampah di wilayah tersebut mencapai 220 ton per hari.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri menargetkan pembangunan TPS 3R di 44 kecamatan. Pada 2023, sudah ada tujuh TPS 3R yang dibangun, dan pada tahun ini direncanakan empat lagi. Harapannya, tiap kecamatan nantinya memiliki fasilitas pengolahan sendiri sehingga sampah tidak seluruhnya harus menumpuk di Bantargebang. Source link
