Jakarta — Menjelang hari pemungutan suara, perhatian tak hanya tertuju pada kesiapan logistik dan teknis penyelenggaraan pemilu, tetapi juga pada keselamatan para petugas di lapangan. Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia, dr. Putro S. Muhammad, mengingatkan bahwa anggota KPPS bisa menghadapi situasi darurat seperti pingsan hingga keracunan, dan penanganan awal yang tepat dapat membantu mencegah kondisi memburuk sebelum korban dibawa ke fasilitas layanan kesehatan terdekat.
Langkah awal saat anggota KPPS pingsan
Dalam seminar daring yang dipantau di Jakarta, Rabu, Putro menjelaskan bahwa pertolongan pertama pada korban pingsan harus difokuskan pada upaya memulihkan suplai oksigen ke otak. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah menjauhkan korban dari kerumunan agar aliran udara tidak terhambat. Setelah itu, tubuh korban dibaringkan telentang dengan posisi kaki lebih tinggi dari jantung. Jika diperlukan, tubuh dapat dimiringkan untuk menjaga keamanan korban.
Menurut Putro, pingsan umumnya terjadi karena aliran oksigen ke otak berkurang. Kondisi itu bisa dipicu oleh banyak hal, termasuk belum sarapan. Karena itu, bantuan hidup dasar atau BHD menjadi keterampilan penting yang sebaiknya dipahami masyarakat luas. BHD merupakan rangkaian tindakan darurat untuk menolong seseorang dari kondisi medis yang mengancam jiwa.
Waspada keracunan dan gigitan ular di TPS
Putro juga menyoroti kemungkinan lain yang dapat dialami petugas, yakni keracunan makanan. Gangguan kesehatan ini bisa muncul akibat konsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri, virus, parasit, bahan kimia, atau jamur tertentu. Dalam kondisi tersebut, korban sebaiknya dibaringkan pada posisi yang nyaman dan aman agar tenaganya pulih. Minuman seperti oralit, air garam, atau air kelapa dapat diberikan sedikit demi sedikit bila tersedia, disusul makanan lunak dalam porsi kecil.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak melakukan tindakan yang justru berisiko, seperti menyayat bagian tubuh korban, mengoleskan pasta gigi, atau menyedot bisa dengan mulut saat menghadapi gigitan ular. Tindakan semacam itu, kata dia, dapat membahayakan korban maupun penolong.
Pengalaman Pemilu 2019 jadi pengingat
Peringatan soal kesiapan kesehatan petugas pemilu bukan tanpa alasan. Berdasarkan kajian Kementerian Kesehatan, pada Pemilu 2019 tercatat 10.997 petugas KPPS mengalami sakit dan 485 orang meninggal dunia. Data itu menjadi pengingat bahwa beban kerja di TPS tidak bisa dipandang ringan, apalagi jika petugas harus bertahan dalam waktu lama di tengah kondisi fisik yang tidak selalu ideal.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga telah membagikan sejumlah kiat bagi petugas pemilu saat bertugas, antara lain melakukan peregangan setiap dua jam selama tiga hingga lima menit, memakai masker saat flu atau batuk, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, serta membatasi konsumsi kopi, minuman manis, dan bersoda. Jika muncul keluhan kesehatan, petugas diminta segera mendatangi puskesmas atau menghubungi tenaga kesehatan.
Untuk menunjang kenyamanan di TPS, Dinas Kesehatan menyarankan lokasi yang memiliki ventilasi dan pencahayaan baik, sanitasi atau toilet, tempat sampah, tempat cuci tangan, sabun, dan air bersih yang cukup. Alur pemilih juga perlu dibuat jelas agar tidak terjadi penumpukan. Di DKI Jakarta, jumlah TPS merujuk Keputusan KPU Provinsi DKI Jakarta Nomor 172 Tahun 2023 sebanyak 30.766 TPS yang tersebar di enam kabupaten/kota, 44 kecamatan, dan 267 kelurahan. Adapun Daftar Pemilih Tetap DKI Jakarta pada Pemilu 2024 mencapai 8.252.897 pemilih, dengan 801.803 di antaranya merupakan pemilih pemula.
Source link
