28.7 C
Jakarta

Skrining Kanker Serviks Modal Utama Tanggulangi Kematian Perempuan – Sehat Negeriku

Published:

Jakarta, 2 Februari 2024 — Upaya menekan kematian akibat kanker serviks di Indonesia kembali ditegaskan sebagai perkara yang tak bisa ditunda. Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono menilai skrining sejak dini menjadi salah satu kunci utama untuk memutus rantai keterlambatan diagnosis yang selama ini masih tinggi.

Skrining Dinilai Jadi Titik Awal

“Salah satu penyebab kematian tertinggi untuk kanker wanita di Indonesia adalah kanker serviks. Skrining kanker serviks sebagai salah satu modalitas utama untuk menanggulangi tingginya angka kematian kanker serviks di Indonesia,” ujar Prof. Dante dalam diskusi tentang kanker serviks, Jumat (2/2) di Jakarta.

Pernyataan itu menggarisbawahi persoalan yang masih dihadapi banyak perempuan di Tanah Air. Kanker serviks tercatat sebagai kanker kedua yang paling umum pada perempuan di Indonesia, namun sebagian besar kasus baru ditemukan ketika penyakit sudah berada pada stadium lanjut. Dari data yang disampaikan, sekitar 70 persen perempuan terdiagnosis saat kondisinya sudah lanjut, sehingga peluang pengobatan menjadi lebih kecil. Dalam situasi itu, sekitar 50 persen pasien akhirnya meninggal dunia akibat penyakit tersebut.

Vaksinasi HPV dan Skrining Dipercepat

Untuk menjawab persoalan itu, Kementerian Kesehatan telah menyiapkan sejumlah langkah. Salah satunya melalui vaksinasi HPV bagi anak perempuan usia sekolah, disertai skrining deteksi dini bagi perempuan Indonesia. Pemerintah bahkan telah menjalankan pilot project vaksinasi HPV gratis di sekolah-sekolah di Jakarta.

Di sisi lain, pemerintah juga menyebut telah menyediakan perawatan yang adekuat bagi pasien kanker serviks di Indonesia. Namun, menurut Kemenkes, penguatan pencegahan tetap menjadi langkah yang paling menentukan agar kasus tidak terus ditemukan di tahap yang sudah sulit ditangani.

RAN 2023-2030 dan Peralihan ke DNA HPV

Kementerian Kesehatan kini mengembangkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Pemberantasan Kanker Serviks untuk Indonesia 2023-2030. Arah besarnya adalah menjadikan kanker serviks sebagai penyakit masa lalu, dengan harapan seluruh perempuan dari berbagai latar sosial ekonomi dapat hidup sehat dan terbebas dari ancaman penyakit tersebut.

Dalam rencana itu, skrining ditempatkan sebagai prioritas. Targetnya, 75 persen perempuan berusia 30-69 tahun dapat menjalani skrining dengan metode pemeriksaan DNA HPV yang dinilai memiliki kualitas lebih terjamin.

Langkah ini juga menandai peralihan dari metode skrining primer yang selama ini dipakai, seperti inspeksi visual asam asetat (IVA) dan pemeriksaan sitologi, menuju DNA HPV. Pada 2020, cakupan skrining kanker serviks melalui IVA dan sitologi baru mencapai 9,3 persen dari populasi target, dengan kesenjangan yang cukup lebar antarprovinsi.

Kemenkes menekankan bahwa penerapan DNA HPV harus didukung pedoman klinis yang jelas, transportasi sampel untuk pengujian tersentralisasi, serta penguatan kapasitas laboratorium. Pemerintah juga membuka ruang bagi strategi alternatif, termasuk skrining di fasilitas layanan kesehatan dan pengambilan sampel mandiri.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor hotline Halo Kemenkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620 dan alamat email [email protected].

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik
dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid

Source link

Related articles

Recent articles