JAKARTA — Perang Yom Kippur kerap dibaca sebagai titik balik dalam sejarah militer Timur Tengah. Namun, di balik sorotan pada Israel, ada sisi lain yang tak kalah penting: bagaimana Mesir menyusun serangan dengan disiplin doktrin dan perencanaan yang rapi. Brigadir Jenderal IDF (Cad.) (Purn.) Dr. Dani Asher, dalam Buku 2 Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto, menyoroti bahwa sedikit buku yang membahas perang itu dari sudut kepemimpinan militer Mesir.
Catatan yang ditemukan IDF
Meski ditulis oleh seorang perwira IDF, buku tersebut disebut mengulas strategi dan kepemimpinan militer Mesir berdasarkan catatan asli perencanaan operasi Yom Kippur yang ditemukan militer Israel saat melakukan serangan balik. Dari dokumen itu, tampak adanya konsistensi Mesir dalam mengikuti doktrin militer Soviet, baik saat menyusun rencana maupun ketika mengeksekusi operasi di medan perang.
Doktrin Soviet menempatkan inisiatif sebagai unsur kunci. Pihak yang lebih dulu memulai konflik dinilai memiliki keuntungan karena dapat menentukan tujuan, waktu, lokasi, dan cara menyerang sesuai kemampuan sendiri sekaligus membaca kelemahan lawan. Dalam kerangka itu, langkah Mesir memilih Hari Raya Yom Kippur sebagai momentum serangan menunjukkan kalkulasi yang matang, bukan sekadar keberanian tempur.
Serangan serentak dan dukungan Syria
Mesir disebut tidak hanya mengandalkan unsur kejutan. Mereka mengerahkan seluruh kekuatan sejak detik pertama serangan, ditambah dukungan militer Syria. Kombinasi ini membuat pasukan Mesir mampu menekan dan memukul mundur posisi militer Israel di sepanjang Terusan Suez pada hari pertama operasi.
Faktor waktu juga menjadi penentu. Karena operasi dimulai atas pilihan Mesir sendiri, mereka memiliki ruang untuk menyiapkan alutsista yang dibutuhkan untuk menyeberangi Terusan Suez secara efektif. Dalam perang modern, kemampuan mengatur tempo sering kali sama pentingnya dengan jumlah pasukan yang dikerahkan di garis depan.
Rintangan air dan serangan pembuka
Pelajaran lain dari doktrin militer Soviet yang dijalankan Mesir adalah cara menghadapi rintangan air. Operasi Yom Kippur, dalam pembacaan itu, masuk kategori penyeberangan untuk membuka kontak dengan musuh. Karena itu, penyeberangan harus dirancang dengan cermat, berlangsung cepat, dilakukan secara masif, dan mencakup area yang luas.
Serangan pembuka pun diarahkan untuk melumpuhkan kemampuan musuh membidik pasukan infanteri. Di titik inilah terlihat bahwa perang tidak hanya ditentukan oleh kekuatan senjata, tetapi juga oleh urutan tindakan, disiplin eksekusi, dan kemampuan memanfaatkan momentum. Dalam analisis Asher, Mesir menunjukkan bahwa perang dapat dimenangkan lebih dulu di meja perencanaan sebelum suara tembakan benar-benar terdengar di garis depan.
Source link
