27 C
Jakarta

Anies Meminta Kebijakan Pertahanan

Published:

Anies Dinilai Menyorot Kebijakan, Bukan Serangan Personal, dalam Debat Ketiga

Juru Bicara Darat Timnas AMIN, Sahat Simatupang, menanggapi pernyataan Presiden Joko Widodo yang menyebut debat ketiga Pilpres 2024 diwarnai serangan personal. Menurut Sahat, tudingan itu tidak tepat bila diarahkan kepada Anies Baswedan. Ia justru menilai Anies dalam debat tersebut sedang menguji kebijakan pertahanan yang selama ini berada di bawah tanggung jawab Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan.

AMIN: Yang Disorot Adalah Kebijakan, Bukan Pribadi

Dalam keterangan tertulis, Selasa (9/2/2024), Sahat menyebut serangan personal justru datang dari pihak lawan. Ia merujuk pada respons Prabowo yang menyebut Anies menyesatkan dan memberi contoh yang tidak baik.

“Itu serangan personal yang brutal. Jadi kami menangkap maksud Jokowi barangkali mengingatkan agar debat tidak menyerang personal karena Anies diserang dengan brutal,” kata Sahat.

Menurut dia, jika debat disimak dengan tenang, pertanyaan Anies sejak awal berkisar pada kebijakan pertahanan, mulai dari dugaan orang dalam dalam pengadaan alat utama sistem persenjataan hingga food estate yang berada di bawah kementerian yang dipimpin Prabowo.

Pertanyaan soal Alutsista dan Lahan 340 Ribu Hektare

Sahat juga menyinggung pertanyaan Anies mengenai lahan seluas 340 ribu hektare yang sebelumnya pernah disampaikan Jokowi dalam debat Pilpres 2019. Isu itu, kata dia, dikaitkan Anies dengan sulitnya prajurit memperoleh rumah.

“Data tanah Prabowo itu kan pernah diungkap Jokowi,” ujar Sahat.

Ia menambahkan, pertanyaan Anies mengenai pembelian pesawat bekas juga tidak bisa langsung dianggap sebagai serangan pribadi. Justru, kata dia, hal itu menyangkut keputusan negara dalam bidang pertahanan yang layak diperdebatkan secara terbuka.

“Kalau kemudian itu dianggap rahasia negara, untuk apa debat dengan tema pertahanan dilakukan. Dihapus saja tema pertahanan dalam debat capres,” cetus Sahat.

Etika Gibran dan Standar Ganda yang Disoal

Sahat juga menyinggung pertanyaan Anies soal dugaan pelanggaran etik dalam pencalonan Gibran Rakabuming Raka sebagai cawapres. Menurut dia, pertanyaan itu bukan serangan kepada pribadi, melainkan pengingat bahwa etika tidak boleh diterapkan dengan standar ganda.

“Ngomong jangan korupsi tetapi membiarkan korupsi. Ngomong demokrasi tetapi memberangus kebebasan berpendapat dan melakukan pemaksaan. Itu tidak etis. Tapi Prabawo justru mengatakan Anies tak pantas bicara etik. Itu serangan brutal saat debat,” kata Sahat.

Ia menambahkan, Anies sendiri tidak terlalu memikirkan ulang jalannya debat karena langsung bergerak ke Gorontalo untuk kampanye. Bagi Sahat, inti perdebatan saat itu tetap berada pada kebijakan pemerintahan, bukan urusan personal.

“Kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah berkaitan dengan pertahanan tentu ditanyakan kepada Prabowo karena dia capres yang saat ini Menteri Pertahanan. Masa pengadaan alutsista dan food estate yang ditangani Kementerian Pertahanan ditanyakan ke calon presiden Ganjar Pranowo,” sebut Sahat.

Di akhir pernyataannya, Sahat menyerahkan penilaian kepada publik. Baginya, debat ketiga justru memperlihatkan bagaimana kebijakan pertahanan pemerintah diuji di hadapan pemilih, dan di situlah perdebatan paling penting seharusnya berlangsung.

Related articles

Recent articles