Oleh Prabowo Subianto [diambil dari Buku Kepemimpinan Militer 1: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto]
Nama Mar TNI (Purn) Azwar Syam mungkin tidak seterkenal tokoh militer lain di ruang publik. Namun, bagi Prabowo Subianto, sosok itu meninggalkan jejak yang panjang dalam pembentukan karakter seorang prajurit. Dalam kesaksian yang ditulisnya, Azwar Syam bukan sekadar komandan kompi di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) Magelang pada 1970, melainkan figur yang menanamkan disiplin, kerapian, dan kepedulian kepada anak buah.
Pertemuan pertama di AKABRI Magelang
Prabowo mengenang pertemuan pertamanya dengan Azwar Syam saat masih taruna AKABRI bagian umum dan darat di Magelang. Saat itu, para kadet dibagi ke dalam batalyon dan kompi. Ia masuk Kompi 2 Batalyon C4. Di hari-hari awal pendidikan, Azwar Syam langsung mencuri perhatian: tubuhnya langsing, kulitnya hitam, pandangan matanya tajam, dan sikapnya penuh percaya diri.
Ia tampil dengan baret ungu, seragam hijau yang sudah tampak usang, tetapi tetap rapi dan disetrika. Kopel dan sepatu yang dikenakannya pun mengilap. Di dada tertulis nama Azwar Syam, sementara di sisi kiri tertera huruf KKO. Bagi Prabowo, kesan pertama itu justru membentuk pemahaman awal tentang wibawa seorang komandan: bukan dari pakaian baru, melainkan dari kerapian, ketegasan, dan keteladanan.
Disiplin yang keras, tetapi membekas
Prabowo juga menuturkan pengalaman saat dirinya menjadi taruna junior dan menerima perlakuan keras di masa perpeloncoan. Kepala para taruna digunduli, lalu mereka dipakaikan helm besi tanpa alas. Untuk mengurangi rasa sakit, sebagian taruna memanfaatkan kain atau bahan seadanya, bahkan celana dalam pembagian dari AKABRI. Di tengah situasi itu, seorang senior sempat memberinya gula jawa untuk dimakan agar tubuh tetap bugar.
Namun, saat apel digelar, Letnan KKO Azwar Syam memeriksa para taruna satu per satu. Ketika menemukan gula jawa di kantong celana Prabowo, ia langsung menegur dan menempelengnya di depan taruna lain. Bagi Prabowo, kejadian itu sempat mengejutkan, apalagi dirinya sebelumnya menempuh pendidikan di Eropa dan terbiasa dengan budaya yang berbeda. Tetapi seiring waktu, rasa kaget itu berubah menjadi hormat.
Ia menilai Azwar Syam bukan hanya keras, melainkan juga sangat disiplin. Sang komandan selalu datang paling awal saat apel pagi dan teliti memeriksa senjata. Dalam pemeriksaan, ia berdiri beberapa meter dari pasukan, lalu senjata dilemparkan kepadanya untuk diperiksa sebelum dikembalikan lagi. Cara itu, menurut Prabowo, menunjukkan standar ketat yang jarang ditawar.
Komandan yang membela anak buah
Di balik sikap kerasnya, Azwar Syam juga digambarkan sebagai komandan yang peduli pada anak buah. Ketika ada taruna yang memperoleh nilai kurang baik, ia disebut kerap menemui dosen dan departemen terkait untuk memperjuangkan kesempatan perbaikan. Hasilnya, pada akhir tahun akademi, seluruh anggota Kompi 2 C4 lulus, meski sebagian nilainya tidak memuaskan.
Prabowo menyebut pengalaman itu sebagai pelajaran penting tentang kepemimpinan. Seorang komandan, menurutnya, harus tegas, fisiknya kuat, cakap, dan tidak banyak bicara. Kepemimpinan semacam itu tidak lahir dari nasihat panjang, melainkan dari contoh nyata yang terus-menerus dilihat anak buahnya.
Selepas lulus dari AKABRI, keduanya sempat lama tidak bertemu. Pertemuan kembali terjadi pada 2003 di Palu, saat Prabowo berceramah dalam acara Partai Golkar. Di hadapan para tamu, ia menyadari kehadiran Azwar Syam yang sudah menua namun masih mudah dikenali. Dalam pidatonya, Prabowo bahkan menyebut bahwa tanpa didikan Azwar Syam, dirinya tidak akan menjadi Letnan Jenderal.
Kisah itu berlanjut ketika Azwar Syam ikut aktif di Partai Gerindra dan membantu kerja-kerja politik Prabowo di akar rumput. Bagi Prabowo, itulah bukti bahwa Azwar Syam bukan hanya komandan, tetapi juga guru yang ingin muridnya melampaui dirinya. Source link
