32 C
Jakarta

Peneliti: Cagub Jakarta jangan coba-coba kampanye atasi banjir 

Published:

Jakarta — Janji mengatasi banjir kembali menjadi sorotan menjelang Pilkada Jakarta 2024. Namun, menurut Peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Dr. Chotib Hasan, M.Si., isu itu sebaiknya tidak dijadikan komoditas kampanye yang terlalu mudah dijual ke publik.

Jakarta dan siklus banjir yang berulang

Dalam diskusi Urban Dialogue yang digelar secara daring, Kamis, Chotib mengingatkan bahwa Jakarta memiliki karakter geografis yang sejak lama membuat persoalan banjir sulit dihindari. Ia menyebut ibu kota sebagai wilayah yang menjadi muara 13 sungai, sehingga banjir nyaris selalu hadir sebagai kebiasaan tahunan.

“Sebagai tempat bermuaranya 13 sungai ini setidaknya Jakarta memiliki kebiasaan tahunan yang namanya banjir. Makanya siapapun nanti yang mau menjadi Gubernur DKI Jakarta mungkin jangan coba-coba berkampanye tentang mengatasi banjir,” kata Chotib.

Ke-13 sungai itu, menurut dia, meliputi Mookevart, Angke, Pesanggrahan, Grogol, Krukut, Baru Barat, Ciliwung, Baru Timur, Cipinang, Sunter, Buaran, Jati Kramat, dan Cakung. Posisi Jakarta di pantai utara Pulau Jawa juga membuat wilayah ini berada di kawasan dataran rendah yang rentan genangan.

Faktor geografis dan warisan persoalan lama

Chotib menjelaskan, secara geografis Pulau Jawa terbagi dalam tiga bagian utama, yakni utara, tengah, dan selatan. Di bagian utara terdapat wilayah aluvial atau dataran banjir, di tengah ada lipatan pegunungan, sementara di selatan merupakan dataran tinggi. Jakarta, kata dia, berada di salah satu wilayah aluvial di pantai utara Jawa.

Ia menambahkan, banjir di Jakarta bukan persoalan baru. Sejak masa penjajahan Belanda hingga kini, persoalan itu terus muncul seiring pembangunan dan perubahan tata ruang kota. Kondisi Jakarta yang berada di dataran rendah, bahkan disebutnya nyaris setara dengan nol dari permukaan laut, membuat ancaman banjir semakin sulit diabaikan.

Masalah lama yang belum tuntas

Peringatan Chotib sejalan dengan sorotan DPRD DKI Jakarta yang kembali menyinggung banjir dalam Rapat Paripurna Istimewa memperingati HUT ke-497 Jakarta pada 22 Juni lalu. Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi mengatakan, Jakarta memang telah mencatat banyak kemajuan, mulai dari pembangunan infrastruktur modern, peningkatan layanan publik, hingga berbagai inovasi. Meski begitu, banjir tetap menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.

Dengan latar seperti itu, pernyataan Chotib menjadi pengingat bahwa warga Jakarta sudah terlalu sering mendengar janji serupa. Yang dibutuhkan, menurut implikasi dari pandangannya, bukan sekadar slogan kampanye, melainkan pengakuan jujur bahwa banjir adalah persoalan struktural yang melekat pada wajah Jakarta sendiri.

Baca juga: DPRD soroti kemacetan dan banjir pada peringatan HUT Jakarta
Baca juga: SDA Jakpus lakukan normalisasi saluran di Gang Alfalah Rawasari
Baca juga: Jaksel gencarkan sosialisasi rekayasa lalu lintas di Ciledug Raya

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ganet Dirgantara
Copyright © ANTARA 2024

Source link

Related articles

Recent articles