34.1 C
Jakarta

BMKG Pasang 533 Seismograf di Zona Megathrust

Published:

BMKG Pasang 533 Seismograf di Zona Megathrust, Dwikorita Soroti Kesiapsiagaan Warga

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat sistem pemantauan gempa dan tsunami dengan memasang 533 seismograf di wilayah yang masuk zona megathrust. Langkah ini diambil sebagai pelajaran dari bencana besar gempa dan tsunami Aceh pada 2004, ketika sistem peringatan dini belum berjalan memadai.

Penguatan sistem setelah tragedi Aceh

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, pada saat bencana Aceh terjadi, Indonesia belum memiliki sistem deteksi yang memadai untuk membaca ancaman tsunami secara cepat. Menurut dia, kala itu jumlah pendeteksi masih sangat terbatas sehingga informasi mengenai potensi tsunami belum bisa diketahui secara optimal.

“Sistem ini di tahun 2004 saat terjadi gempa dan tsunami Aceh tidak ada sistem sama sekali, baru ada pendeteksi 20-an, kita belum tahu tsunami akan seperti apa,” kata Dwikorita saat ditemui di Kantor BMKG, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (21/8/2024).

533 sensor dipasang di Sumatera, Jawa, hingga NTT

Dwikorita menjelaskan, ratusan seismograf itu kini telah ditempatkan untuk mendukung sistem deteksi dan peringatan dini tsunami. Pemasangan tersebut, kata dia, tersebar di wilayah Sumatera, Jawa, serta sejumlah titik di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Lalu dengan pengalaman di Banda Aceh sudah terpasang 533 seismograf khusus menghadapi berjaga jaga menghadapi megathrust dan tsunami mulai dari Sumatera, Jawa, dan beberapa di Nusa Tenggara Barat (NTB) maupun Nusa Tenggara Timur (NTT),” tambahnya.

Alat cukup, respons masyarakat tetap kunci

Meski menganggap jumlah alat deteksi yang terpasang sudah memadai, Dwikorita menekankan bahwa persoalan utama bukan hanya pada teknologi. Menurut dia, kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah menjadi faktor penentu ketika alarm peringatan dini berbunyi.

Ia menilai, sistem yang baik tidak akan efektif bila tidak diikuti respons cepat di lapangan. Karena itu, kesiapan sosial dan budaya masyarakat di kawasan rawan megathrust perlu dibangun secara bersama, melibatkan pemerintah daerah, warga, para ahli, perguruan tinggi, BRIN, Badan Geologi, dan BNPB sebagai koordinator.

“InsyaAllah dari segi sistem deteksi dan monitoring insyaAllah cukup dari jumlah alat, namun yang harus dijaga adalah bagaimana masyarakat itu meskipun sistem ada tapi kalau masyarakat dan pemerintah daerah tidak disiapkan sama saja ada peringatan dini tidak ada yang merespons jadi sama saja. Kesiapannya disertai dengan kesiapan sosio-kultur, di mana melibatkan pemerintah daerah, masyarakat, pihak terkait dengan para ilmuan, pakar, perguruan tinggi, badan riset ada BRIN, Badan Geologi dan dikoordinasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),” katanya.

Saksikan selengkapnya dalam program One on One pada Jumat, 23 Agustus 2024 pukul 21.30 WIB hanya di Sindonews TV. (abd)

Source link

Related articles

Recent articles